Hakuhodo mengintegrasikan riset konsumen dengan teknologi AI untuk menciptakan lebih dari 100 persona digital bagi pasar ASEAN.
Pengenalan Inovasi di Forum Sei-Katsu-Sha 2026
Jakarta, 3 September 2026 – Hakuhodo Institute of Life & Living ASEAN (HILL ASEAN) memperkenalkan rangkaian AI tools baru dalam forum Sei-Katsu-Sha 2026 yang diadakan di Bengkel Space, Jakarta. Presentasi tersebut menyoroti bagaimana perusahaan menggabungkan data riset kualitatif asli selama tujuh tahun dengan kecerdasan buatan untuk menghasilkan persona digital yang lebih akurat dan relevan bagi pasar ASEAN.
Director of H+ & Innovation Wimala Djafar memulai presentasi dengan kritik tajam terhadap praktik industri periklanan yang terlalu bergantung pada AI generatif generik. Menurutnya, ketergantungan pada model dasar yang sama dapat membuat brand kehilangan diferensiasi, karena “semua orang pada akhirnya berbicara dengan model dasar yang sama.” Djafar menegaskan bahwa meskipun AI memberikan kecepatan dan skala, pertumbuhan yang berarti datang dari manusia. Ia menekankan pentingnya menggabungkan AI dengan data manusia yang bersifat kualitatif—wawancara, kunjungan rumah, dan studi mendalam selama tujuh tahun.
Konsep Virtual Sei-Katsu-Sha
Dari kritik tersebut lahirlah Virtual Sei-Katsu-Sha, sebuah persona AI yang dilatih dengan data riset pribadi Hakuhodo. Persona ini tidak hanya memanfaatkan data kuantitatif, melainkan juga data kualitatif yang dihasilkan dari interaksi langsung dengan konsumen. Dengan melatih model AI menggunakan data unik ini, insight yang dihasilkan menjadi lebih spesifik dan relevan bagi setiap klien.
Business of Director Kyohei Hasegawa menjelaskan bahwa model AI tidak hanya dilatih ulang dengan data internal Hakuhodo, tetapi juga mengintegrasikan data klien. “So rather, we retrain AI models with our own data, Seikatsu-sha data. And in a couple of other projects, we also incorporate clients’ data into it, so that having the data is unique. The insight that we get from the AI becomes also unique,” ujarnya.
Pengembangan Lebih dari 100 Persona Digital
Hakuhodo mengklaim telah mengembangkan lebih dari 100 persona Virtual Sei-Katsu-Sha. Setiap persona dilengkapi dengan insight hiper-lokal dan minat niche yang sangat detail. Persona ini dirancang untuk mencerminkan karakteristik demografis, psikografis, dan perilaku konsumen di berbagai negara ASEAN. Dengan memanfaatkan data kualitatif yang kaya, persona ini dapat menyoroti preferensi, kebiasaan, dan nilai-nilai yang mungkin tidak terdeteksi oleh metode riset tradisional.
Keunggulan Integrasi Riset Kualitatif dan AI
Integrasi riset kualitatif dengan AI menawarkan beberapa keunggulan. Pertama, data kualitatif memberikan konteks yang lebih dalam tentang motivasi dan emosi konsumen, yang sulit diukur melalui data kuantitatif saja. Kedua, AI dapat memproses volume data yang besar dan menemukan pola tersembunyi yang mungkin terlewatkan oleh analis manusia. Ketiga, dengan melatih model AI pada data internal dan klien, hasil insight menjadi unik dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik setiap brand.
Selain itu, penggunaan persona digital ini memungkinkan tim kreatif dan strategis untuk mensimulasikan perilaku konsumen secara real-time. Hal ini dapat mempercepat proses pembuatan kampanye, mengurangi risiko kegagalan, dan meningkatkan efektivitas pesan yang disampaikan. Dengan memahami karakteristik konsumen secara mendalam, brand dapat menyesuaikan konten, channel, dan timing yang paling tepat untuk menjangkau target audience.
Dampak pada Industri Periklanan dan Pemasaran di ASEAN
Inovasi ini dapat mengubah cara industri periklanan dan pemasaran beroperasi di kawasan ASEAN. Pertama, pendekatan berbasis data kualitatif yang terintegrasi dengan AI dapat meningkatkan akurasi segmentasi pasar. Brand dapat mengidentifikasi sub-segmen yang sangat spesifik, seperti minat niche atau perilaku konsumen di daerah tertentu, sehingga strategi pemasaran menjadi lebih terfokus.
Kedua, dengan memiliki lebih dari 100 persona digital, perusahaan dapat lebih mudah menskalakan kampanye lintas negara tanpa kehilangan nuansa lokal. Persona yang dipersonalisasi memungkinkan brand untuk menyesuaikan pesan sesuai dengan budaya, bahasa, dan nilai lokal masing-masing negara di ASEAN.
Ketiga, kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan oleh AI memungkinkan tim kreatif untuk bereksperimen lebih banyak. Mereka dapat menguji berbagai varian pesan, visual, dan channel secara cepat, lalu memanfaatkan insight AI untuk memilih opsi terbaik. Ini dapat memperpendek siklus produksi kampanye dan mengurangi biaya yang biasanya terkait dengan riset pasar tradisional.
Potensi Tantangan dan Pertimbangan Etika
Walaupun inovasi ini menjanjikan banyak manfaat, terdapat tantangan dan pertimbangan etika yang perlu diperhatikan. Salah satu isu utama adalah privasi data. Penggunaan data kualitatif yang mendalam, seperti wawancara dan kunjungan rumah, memerlukan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data di setiap negara ASEAN. Hakuhodo harus memastikan bahwa data dikumpulkan, disimpan, dan diproses dengan aman serta transparan kepada responden.
Selain itu, ada risiko bias algoritma. Meskipun model AI dilatih ulang dengan data internal dan klien, bias yang ada dalam data kualitatif tetap dapat mempengaruhi hasil insight. Oleh karena itu, penting bagi tim riset dan data science untuk secara aktif memonitor dan menyesuaikan model guna meminimalkan bias tersebut.
Kesimpulan
Hakuhodo dengan mengintegrasikan riset konsumen kualitatif selama tujuh tahun ke dalam teknologi AI telah menciptakan lebih dari 100 persona digital yang menawarkan insight hiper-lokal dan minat niche bagi pasar ASEAN. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan akurasi segmentasi pasar, tetapi juga mempercepat proses kreatif dan memungkinkan penyesuaian kampanye lintas negara dengan lebih efektif. Meskipun tantangan privasi dan bias algoritma tetap ada, inovasi ini menandai langkah maju dalam industri periklanan di kawasan ini, menekankan pentingnya kombinasi antara data manusia dan kecerdasan buatan untuk menciptakan diferensiasi brand yang nyata.

Tinggalkan Balasan