Bos Sound Horeg Ceritakan Dimarahi Istri Selama 24 Jam Usai Kontroversi ‘Goblokin’ yang Dikecam MUI Jatim, Mengungkap Dampak di Rumah Tangga

Sound horeg, sistem pengeras suara terbesar yang dikenal di Indonesia, kini menjadi sorotan publik setelah pemiliknya, Setyo Budi Mularso, mengeluarkan kata-kata yang menuduh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi saat Budi sedang live di salah satu stasiun TV dan kemudian memicu reaksi luas di media sosial serta di kalangan masyarakat umum.

Peristiwa Awal: Ucapan Kontroversial di Layar TV

Pada tanggal 11 September 2026, Setyo Budi Mularso, bos dari perusahaan penyedia sistem pengeras suara terbesar di Indonesia, tampil di sebuah stasiun televisi lokal. Dalam siaran tersebut, ia mengekspresikan ketidakpuasan yang cukup kuat terhadap keputusan MUI Jawa Timur, yang ia sebut sebagai “goblok”. Kata-kata tersebut tidak hanya menimbulkan kontroversi, tetapi juga menimbulkan kesan bahwa ia menuduh lembaga tersebut secara langsung.

Baca juga:
Puan dorong terbentuknya satu komando penanganan bencana di Indonesia untuk koordinasi cepat dan terpadu antar lembaga terkait

Setelah pernyataan tersebut disebarluaskan, reaksi publik sangat beragam. Beberapa netizen menilai bahwa Budi telah melanggar norma kesopanan, sementara yang lain menganggapnya sebagai kritik terhadap kebijakan MUI yang dianggap terlalu ketat. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa ucapan Budi menimbulkan perdebatan yang lebih luas, terutama di kalangan yang peduli dengan nilai-nilai agama dan etika publik.

Reaksi Keluarga: Diceramahi Istri dan Anak

Budi mengakui bahwa setelah pernyataannya, ia mengalami reaksi emosional di dalam rumah. Ia diceramahi istri dan anaknya, sehingga suasana di rumah menjadi tegang. Menurut Budi, “Saya diceramahi anak istri, otomatis anak istri menceramahi 24 jam di rumah.” Hal ini menandakan bahwa pernyataan publik dapat berdampak langsung pada kehidupan pribadi seseorang, terutama ketika topik yang diangkat bersifat sensitif.

Reaksi keluarga Budi menambah ketegangan yang sudah ada di luar ruangan. Keluarga tersebut tampaknya memutuskan untuk menegur Budi agar lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, terutama ketika berbicara di depan umum. Meskipun tidak ada detail lebih lanjut mengenai isi pertemuan keluarga, jelas bahwa ketegangan emosional memanjang selama 24 jam, menunjukkan dampak jangka panjang yang dapat dialami oleh keluarga setelah pernyataan publik yang kontroversial.

Permohonan Maaf dan Penyesalan

Setelah peristiwa tersebut, Budi segera menyampaikan permohonan maaf kepada MUI di Karanganyar. Ia menyatakan bahwa ia sadar telah melakukan kesalahan dan meminta maaf atas ucapan yang tidak pantas. “Saya sendiri sudah sampaikan saya khilaf dari pernyataan saya itu. Saya juga sudah menyampaikan dari hati yang benar-benar tulus, bahwasanya saya khilaf. Dan saya tobat,” kata Budi, menegaskan bahwa ia telah menyadari kesalahannya dan bertekad untuk memperbaiki perilakunya.

Baca juga:
Korban tewas banjir bandang Nepal-China kini mencapai 633 jiwa, sementara hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang dalam bencana alam yang meluas

Permohonan maaf tersebut tidak hanya ditujukan kepada MUI, tetapi juga kepada publik yang merasa tersinggung. Budi menegaskan bahwa ia akan menghentikan penggunaan sistem sound horeg untuk acara yang menimbulkan kontroversi. Ia berencana untuk kembali fokus pada konser musik dengan setting suara normal, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa ia memanfaatkan sistem sound horeg untuk tujuan kontroversial.

Respon MUI Karanganyar dan Pemaafan

Ketua MUI Karanganyar, KH Badaruddin, menyatakan bahwa ia telah memaafkan pernyataan Budi. Ia menegaskan bahwa Budi telah mengakui kesalahannya dan telah meminta maaf secara resmi kepada MUI Jatim, MUI Jateng, serta MUI Indonesia secara keseluruhan. “Saya sebagai orang Islam memaafkan. Dengan meminta maaf kepada MUI Jatim, MUI Jateng, dan (MUI) Indonesia termasuk (MUI) Karanganyar, sudah saya maafkan. Jangan sampai itu terulang kembali,” kata Badaruddin.

Respon ini menandakan bahwa lembaga keagamaan di Indonesia cenderung memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, asalkan ada permohonan maaf yang tulus. Meskipun Budi telah menyesali perbuatannya, ia tetap harus memperhatikan bagaimana ia menggunakan platform publik di masa depan.

Dampak pada Reputasi Sound Horeg

Sound horeg, yang dikenal sebagai sistem pengeras suara terbesar di Indonesia, kini berada di bawah sorotan negatif. Meskipun Budi belum secara resmi menghapuskan penggunaan sound horeg dalam semua acara, ia telah menyatakan niatnya untuk tidak lagi menggunakannya dalam konteks yang menimbulkan kontroversi. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian bagi klien yang telah menggunakan sistem tersebut, terutama di kalangan yang sensitif terhadap isu agama.

Baca juga:
ANTARA meningkatkan sinergi tim dalam upaya menemukan lima pewarta foto yang menghilang kontak, fokus pada koordinasi lapangan

Reputasi sound horeg dapat terpengaruh secara tidak langsung melalui asosiasi dengan pernyataan Budi. Jika perusahaan tidak dapat memisahkan pernyataan pribadi Budi dari merek sound horeg, maka perusahaan mungkin perlu melakukan kampanye komunikasi yang lebih kuat untuk menegaskan nilai-nilai profesional dan netralitas dalam layanan yang disediakan.

Dampak pada Keluarga dan Hubungan Sosial

Reaksi keluarga Budi menunjukkan bahwa pernyataan publik dapat memiliki dampak jangka panjang pada hubungan interpersonal. Ketegangan 24 jam yang dialami oleh keluarga Budi menegaskan bahwa konflik yang muncul di dunia publik tidak selalu berakhir di sana. Konflik semacam ini dapat menimbulkan stres, ketegangan emosional, dan bahkan mempengaruhi hubungan jangka panjang.

Selain itu, pernyataan Budi dapat memicu diskusi di antara para profesional di industri hiburan dan event management. Banyak pihak mungkin menilai bahwa penggunaan sound horeg dalam acara publik harus disesuaikan dengan norma dan etika yang berlaku. Hal ini dapat memicu perubahan standar operasional di industri tersebut, di mana penggunaan sistem besar harus disertai pertimbangan etika dan sosial.

Kesimpulan: Pelajaran untuk Semua Pihak

Peristiwa ini menegaskan pentingnya kesadaran dalam berkomunikasi di dunia publik. Setiap kata yang diucapkan oleh figur publik dapat memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada reputasi pribadi tetapi juga pada keluarga, lembaga

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *