Candi Gayatri Tulungagung, sebuah situs bersejarah abad ke-14, kini teridentifikasi sebagai lokasi perabuan Permaisuri Majapahit yang tercatat dalam Nagarakertagama, sebuah fakta bersejarah yang menarik bagi para peneliti dan pecinta budaya.
Asal Usul dan Nama Candi
Terletak di tengah permukiman padat warga di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Candi Gayatri Tulungagung dikenal juga dengan nama Candi Boyolangu. Kompleks ini merupakan tempat persembahan bagi Gayatri Rajapatni, permaisuri keempat Raden Wijaya sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Lokasinya hanya sekitar 12 km dari pusat Kota Tulungagung dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit berkendara.
Gayatri Rajapatni memiliki peran penting dalam sejarah Majapahit. Ia adalah ibu dari Tribhuwana Wijayatunggadewi, ratu Majapahit ketiga, serta nenek dari Hayam Wuruk, raja yang membawa Majapahit ke masa kejayaannya. Setelah wafat, jenazahnya disimpan di candi yang namanya kemudian diabadikan, yakni Pradjnaparamitapuri, yang kini lebih dikenal sebagai Candi Gayatri Tulungagung.
Keterkaitan dengan Nagarakertagama
Kitab Nagarakertagama, karya pujangga Mpu Prapanca, mencatat peristiwa perabuan Gayatri Rajapatni di Candi Gayatri Tulungagung. Dalam teks tersebut, disebutkan bahwa candi ini menjadi tempat perabuan bagi sang permaisuri, menandai pentingnya situs ini dalam sejarah Majapahit. Penemuan ini memberikan bukti kuat bahwa Candi Gayatri Tulungagung memang berfungsi sebagai tempat perabuan dan pemakaman bagi tokoh penting kerajaan Majapahit.
Arsitektur dan Kondisi Candi
Candi Gayatri Tulungagung menampilkan ciri khas arsitektur candi Hindu-Buddha yang khas pada masa Majapahit. Struktur candi terdiri dari beberapa lapisan, termasuk bangunan utama, ruang peribadatan, dan area pemakaman. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, masih dapat dilihat beberapa elemen arsitektural yang terjaga, seperti ukiran-ukiran di dinding candi dan struktur arsitektur atap yang masih utuh. Namun, beberapa bagian candi juga mengalami kerusakan akibat erosi dan aktivitas manusia di sekitar situs.
Peran Candi Gayatri Tulungagung dalam Budaya Lokal
Keberadaan Candi Gayatri Tulungagung menjadi bagian penting dalam identitas budaya masyarakat Tulungagung. Situs ini sering dijadikan tempat peribadatan bagi penduduk setempat, serta menjadi objek wisata yang menarik bagi para pengunjung. Candi ini juga sering dijadikan latar dalam berbagai kegiatan budaya, seperti upacara tradisional dan festival budaya yang diadakan oleh masyarakat setempat. Selain itu, Candi Gayatri Tulungagung juga menjadi objek penelitian bagi para sejarawan dan arkeolog, yang mempelajari sejarah Majapahit melalui situs ini.
Dampak Penemuan terhadap Penelitian Sejarah
Penemuan bahwa Candi Gayatri Tulungagung adalah lokasi perabuan Permaisuri Majapahit memberikan dampak signifikan bagi penelitian sejarah. Hal ini membuka peluang bagi para peneliti untuk menggali lebih dalam tentang kehidupan sosial, politik, dan budaya Majapahit melalui situs ini. Dengan adanya bukti arkeologis yang kuat, para sejarawan dapat mengkaji kembali kronologi sejarah Majapahit, khususnya mengenai peran permaisuri dalam kebijakan politik dan budaya kerajaan. Selain itu, penemuan ini juga memperkaya pemahaman tentang hubungan antara kebudayaan Hindu-Buddha dan tradisi lokal di wilayah Jawa Timur.
Potensi Pariwisata dan Pelestarian
Keberadaan Candi Gayatri Tulungagung juga membuka peluang bagi pengembangan pariwisata berbasis sejarah di Tulungagung. Situs ini dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang menarik bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan. Untuk menjaga kelestarian situs, perlu adanya upaya pelestarian yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, dan masyarakat setempat. Langkah-langkah seperti pemeliharaan struktur candi, penyusunan rambu penunjuk arah, serta penyediaan fasilitas pendukung bagi pengunjung dapat meningkatkan nilai wisata dan pelestarian situs ini.
Kesimpulan
Candi Gayatri Tulungagung, yang kini dikenal sebagai tempat perabuan Permaisuri Majapahit, menjadi bukti kuat tentang sejarah dan budaya Majapahit. Penemuan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan sejarah, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan pariwisata dan pelestarian warisan budaya di Tulungagung. Dengan menjaga situs ini, generasi mendatang dapat terus mengenang dan menghargai warisan sejarah yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal.

Tinggalkan Balasan