Membedah peran jubir: lebih dari sekadar penyambung lidah, ia menjadi arsitek dampak politik dan sosial

Jubir, peran yang semakin kompleks di era digital, menjadi fokus utama peluncuran buku “JURU BICARA: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi” yang ditulis oleh Benny Siga Butarbutar dan Marlinda Irwanti Poernomo.

Peluncuran Buku dan Diskusi Panel

Acara berlangsung di ANTARA Heritage Center, Jakarta Pusat, pada Jumat, 11 September 2026. Selain penyerahan buku, diskusi panel menampilkan pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto, Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Fifi Aleyda Yahya, Ketua Umum PERHUMAS Boy Kelana Soebroto, dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Paulus Tri Agung Kristanto. Semua peserta berbagi pandangan mengenai bagaimana jubir tidak lagi sekadar penyambung lidah, melainkan menjadi arsitek dampak politik dan sosial.

Baca juga:
Fotografer menunggu momen tepat, hasil jepretan foton yang muncul di layar membuat penonton tertawa terbahak‑bahak karena keunikannya

Perubahan Tugas dan Tanggung Jawab Jubir

Seiring dengan munculnya media sosial dan platform digital, tugas jubir mengalami transformasi. Tidak hanya mengartikulasikan kebijakan, jubir kini harus merancang pesan yang dapat menyebar luas melalui jaringan online. Mereka harus mampu memanfaatkan algoritma, memahami tren viral, dan menyesuaikan bahasa agar resonan dengan audiens yang beragam.

Selain itu, jubir juga dituntut untuk memantau persepsi publik secara real-time. Melalui analisis data media sosial, mereka dapat menyesuaikan strategi komunikasi sebelum opini publik bergerak ke arah yang tidak diinginkan. Hal ini menunjukkan bahwa jubir berperan aktif dalam membentuk narasi politik yang lebih dinamis.

Dampak Politik dan Sosial

Peran jubir yang semakin luas mempengaruhi kebijakan publik. Dengan kemampuan memanipulasi narasi, jubir dapat menekankan isu-isu tertentu sehingga mendapatkan dukungan publik yang lebih besar. Sebaliknya, ketika strategi komunikasi gagal, mereka dapat memicu kontroversi yang berdampak pada kredibilitas pemimpin atau partai politik.

Secara sosial, jubir turut membentuk opini publik tentang isu-isu penting seperti perubahan iklim, kebijakan ekonomi, dan hak asasi manusia. Ketika pesan yang disampaikan tepat sasaran, mereka dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong partisipasi aktif. Namun, penggunaan taktik manipulatif dapat menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap media dan institusi politik.

Perspektif Manajemen Komunikasi Politik

Penulis buku menekankan pentingnya manajemen komunikasi politik yang adaptif. Mereka menyoroti bahwa strategi komunikasi harus disesuaikan dengan konteks sosial dan teknologi. Dengan memahami dinamika media digital, jubir dapat menciptakan pesan yang tidak hanya informatif tetapi juga persuasif.

Diskusi panel juga menekankan bahwa keberhasilan jubir bergantung pada kolaborasi lintas disiplin. Kerja sama antara ahli data, kreator konten, dan politisi memungkinkan pembentukan strategi komunikasi yang holistik. Ini menandai pergeseran dari model tradisional ke pendekatan yang lebih terintegrasi.

Kesimpulan

Peluncuran buku “JURU BICARA” menegaskan bahwa jubir telah melampaui batasan sebagai penyambung lidah. Mereka kini menjadi arsitek dampak politik dan sosial, memanfaatkan teknologi digital untuk mempengaruhi opini publik. Peran ini menuntut keahlian baru, kolaborasi lintas disiplin, dan pemahaman mendalam tentang dinamika media. Seiring perkembangan zaman, peran jubir akan terus bertransformasi, menjadikan mereka pemain kunci dalam lanskap komunikasi politik yang semakin kompleks.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *