Pemprov Sumsel Dorong Gerakan Pemberdayaan Masyarakat (GSMP) Naik Kelas, Upaya Tingkatkan Partisipasi dan Kemandirian Warga

GSMP menjadi sorotan utama kebijakan pembangunan di Sumatera Selatan, mengukuhkan peran pemerintah provinsi dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sejak peluncurannya pada tahun 2021. Program ini, yang dipimpin oleh Gubernur Herman Deru dan Wakil Gubernur Cik Ujang, telah menandai perubahan signifikan dalam cara masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan lokal.

Sejarah dan Evolusi GSMP

Program Gerakan Pemberdayaan Masyarakat (GSMP) pertama kali dikonsep sebagai respons atas kebutuhan akan ketahanan pangan yang lebih mandiri di wilayah Sumatera Selatan. Pada masa awalnya, GSMP difokuskan pada distribusi bantuan pangan dan pelatihan dasar pertanian. Namun, seiring berjalannya waktu, program ini mengalami transformasi menjadi platform yang lebih holistik, menggabungkan aspek produktivitas, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Baca juga:
Dari Sorong, Zulhas Pastikan Program Pangan Nasional Merambah Seluruh Wilayah Timur, Tingkatkan Ketahanan dan Kesejahteraan

Perubahan arah ini didorong oleh visi Gubernur Deru dan Wakil Gubernur Cik Ujang untuk tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga pelaku aktif dalam proses pembangunan. Mereka menekankan pentingnya “naik kelas” GSMP, yakni meningkatkan kualitas dan cakupan layanan agar masyarakat dapat secara aktif berkontribusi pada produksi dan distribusi pangan.

Peran GSMP dalam Peningkatan Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan menjadi fokus utama GSMP. Melalui program ini, masyarakat di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan diberi akses ke teknologi pertanian modern, seperti sistem irigasi tetes, pupuk organik, dan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Selain itu, GSMP juga menyediakan pelatihan tentang manajemen lahan, rotasi tanaman, dan teknik budidaya yang ramah lingkungan.

Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal. Masyarakat yang terlibat aktif dalam GSMP mulai mengurangi ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah, sehingga memperkuat keamanan pangan secara regional.

NGOPI BARENG GSMP: Forum Diskusi yang Santai namun Produktif

Suatu contoh inovatif dalam pelaksanaan GSMP adalah acara “Ngopi Bareng GSMP” yang diadakan di Aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, pada 14 September 2026. Cik Ujang, Wakil Gubernur Sumsel, memimpin diskusi santai ini, menekankan bahwa pembangunan tidak selalu harus formal dan resmi. “Ngopi bareng memang sangat digemari masyarakat karena pembangunan tidak harus selalu dalam suasana formal dan resmi, tetapi bisa melalui forum yang lebih santai,” ujarnya.

Baca juga:
Kemendiktisaintek meluncurkan ragi adaptif sebagai wujud empati sains bagi perajin tempe, mendukung produksi berkelanjutan dan kualitas tinggi

Acara ini menjadi platform bagi petani, pengusaha lokal, dan masyarakat umum untuk saling bertukar pengalaman, mengajukan pertanyaan, serta membahas tantangan dan solusi dalam implementasi GSMP. Keberhasilan format ini terlihat dari tingginya partisipasi dan feedback positif yang diterima, menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih akrab dapat memperkuat keterlibatan masyarakat.

Dampak GSMP pada Perekonomian Lokal

Dengan menumbuhkan produktivitas, GSMP telah membuka peluang ekonomi baru bagi warga Sumatera Selatan. Banyak kelompok tani yang berhasil meningkatkan pendapatan mereka melalui penjualan produk yang lebih baik dan beragam. Selain itu, pelatihan keterampilan yang disediakan oleh GSMP memungkinkan masyarakat untuk memulai usaha mikro, seperti pengolahan makanan atau kerajinan tangan, yang selanjutnya meningkatkan pendapatan keluarga.

Dampak ekonomi ini tidak hanya terasa di tingkat mikro; sektor agribisnis lokal mengalami pertumbuhan signifikan. Peningkatan produksi dan kualitas produk pangan lokal memicu minat pasar regional dan bahkan internasional, memperluas jaringan pemasaran bagi para petani dan pelaku usaha.

Visi Masa Depan GSMP: Menjadi Pelaku, Bukan Penerima Manfaat

Menurut Cik Ujang, GSMP tidak boleh berhenti sebagai program bantuan semata. “GSMP bertujuan lebih memproduktifkan masyarakat. GSMP harus terus didorong untuk naik kelas agar masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi menjadi pelaku. GSMP mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya. Visi ini menegaskan bahwa keberlanjutan GSMP bergantung pada transformasi masyarakat menjadi agen perubahan.

Baca juga:
RI dan Selandia Baru sepakat memperkuat kerja sama strategis di bidang pangan serta pengembangan energi terbarukan untuk ketahanan dan keberlanjutan

Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah provinsi menargetkan peningkatan kapasitas pelatihan, akses ke modal, dan dukungan teknis bagi pelaku ekonomi lokal. Program ini juga mengintegrasikan aspek digitalisasi, seperti penggunaan aplikasi mobile untuk manajemen lahan dan pemasaran produk, guna memudahkan akses informasi dan meningkatkan efisiensi operasional.

Kesimpulan

Gerakan Pemberdayaan Masyarakat (GSMP) telah menjadi tonggak penting dalam pembangunan Sumatera Selatan. Dari awalnya program bantuan, GSMP kini berkembang menjadi platform pemberdayaan yang mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku aktif dalam produksi dan distribusi pangan. Melalui inisiatif seperti Ngopi Bareng GSMP, pemerintah provinsi berhasil menciptakan ruang dialog terbuka yang meningkatkan partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dampak positifnya terlihat jelas, baik dalam peningkatan ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi lokal, maupun peningkatan kualitas hidup warga. Dengan terus memajukan GSMP ke kelas berikutnya, Sumatera Selatan berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam pembangunan berkelanjutan dan kemandirian pangan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *