Defisit kalori ternyata bisa menyebabkan kesulitan buang air besar, dokter gizi jelaskan mekanisme dan solusinya

Defisit kalori ternyata bisa menyebabkan kesulitan buang air besar, sebuah fenomena yang sering terlewatkan ketika orang fokus menurunkan berat badan tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi. Dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, seorang dokter spesialis gizi, menjelaskan bahwa kondisi ini muncul ketika defisit kalori diterapkan tanpa mempertimbangkan asupan serat dan cairan yang cukup.

Pola Defisit Kalori yang Salah

Defisit kalori tetap harus ada yang dimakan seratnya. Lemaknya lemak sehat. Karbohidrat tetap perlu juga, sama protein, jelas diingatkan dr. Yaze. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu fokus pada protein. Sementara sayuran dan sumber serat lainnya justru dikurangi atau bahkan tidak dikonsumsi. “Kalau misalnya kamu defisit kalori dan yang dimakan cuma protein aja, nggak ada seratnya, biasanya terjadi sulit BAB,” ujarnya.

Baca juga:
Panduan Lengkap Menurunkan Berat Badan Secara Alami dan Aman Tanpa Obat

Asupan cairan juga tidak boleh luput saat sedang mengatur kalori. Ketika jumlah minum ikut dikurangi, BAB bisa saja semakin sulit. “Kalau misalnya defisit kalori terus minumnya juga jadi kurang, ya udah pasti akhirnya jadi sulit BAB juga,” lanjut dr Yaze.

Pola diet yang terlalu ketat dapat membuat kondisi tersebut semakin mudah terjadi. Dr. Yaze mencontohkan seperti pola makan yang karbohidratnya langsung dipotong sampai nol, tidak suka makan sayur, asupan minum kurang, kemudian makanan yang dikonsumsi hanya berfokus pada protein. “Biasanya orang main defisit‑defisit aja. Misalnya langsung tiba‑tiba cut karbo, jadi nol sama sekali nggak ada karbonya. Terus udah nggak suka sayur, karbonya nggak ada, minumnya juga kurang, dimakan cuma protein aja. Akhirnya terjadi gangguan BAB,” tutur dr Yaze.

Padahal, kebutuhan serat tetap perlu dipenuhi agar saluran pencernaan tetap berfungsi normal. Tanpa serat, feses menjadi lebih padat dan sulit melewati usus, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan risiko sembelit.

Mekanisme Bagaimana Defisit Kalori Menyebabkan Sembelit

Defisit kalori yang tidak seimbang mengganggu proses pencernaan karena dua faktor utama: kurangnya serat dan kurangnya cairan. Serat berperan sebagai “bantu” dalam menambah volume feses dan memperlancar pergerakan usus. Tanpa serat, feses menjadi lebih kering dan padat, sehingga sulit keluar.

Selain itu, cairan berfungsi sebagai pelumas alami di dalam usus. Ketika asupan cairan menurun, feses menjadi lebih kering dan tidak mudah meluncur. Kombinasi kurang serat dan cairan memperparah kondisi, menghasilkan sembelit kronis pada beberapa kasus.

Dr. Yaze menekankan bahwa defisit kalori tidak harus berarti mengurangi semua jenis makanan. Sebaliknya, pengurangan kalori dapat dilakukan dengan menyesuaikan proporsi makronutrien, tetap menjaga asupan serat, lemak sehat, karbohidrat kompleks, dan protein. Dengan cara ini, tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk fungsi pencernaan yang optimal.

Gejala dan Dampak Kesehatan

Gejala yang paling umum adalah sulit buang air besar, seringkali disertai rasa kembung, ketidaknyamanan perut, dan rasa tidak terlepas. Jika tidak ditangani, sembelit dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti divertikulitis, hemoroid, atau bahkan penyumbatan usus. Selain itu, sembelit kronis dapat mempengaruhi kualitas hidup, membuat seseorang merasa letih, tidak fokus, dan bahkan mengganggu pola tidur.

Defisit kalori yang tidak seimbang juga dapat mempengaruhi metabolisme tubuh. Ketika asupan kalori terlalu rendah, tubuh dapat memprioritaskan energi untuk fungsi vital, sementara fungsi pencernaan menjadi terabaikan. Ini dapat memperlambat laju metabolisme, sehingga menambah beban bagi sistem pencernaan yang sudah menegang.

Solusi Praktis untuk Menjaga Pencernaan Sehat

1. **Sertakan Serat dalam Setiap Makanan**

Menambahkan sayuran, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan ke dalam menu harian dapat meningkatkan asupan serat secara signifikan. Serat larut dan tidak larut bekerja bersama untuk menambah volume feses dan memperlancar pergerakan usus.

2. **Tetap Minum Cukup**

Air putih adalah pelumas penting bagi sistem pencernaan. Menyesuaikan jumlah minum sesuai kebutuhan tubuh, biasanya setidaknya 2 liter per hari, membantu mencegah keringnya feses.

3. **Pilih Karbohidrat Kompleks**

Ganti karbohidrat sederhana dengan sumber kompleks seperti beras merah, gandum utuh, atau ubi jalar. Karbohidrat kompleks tidak hanya memberikan energi, tetapi juga mengandung serat yang membantu pencernaan.

4. **Berikan Lemak Sehat**

Lemak sehat, seperti omega-3 dari ikan atau minyak zaitun, dapat membantu melunakkan feses dan memfasilitasi pergerakan usus. Lemak juga membantu penyerapan vitamin larut lemak.

5. **Perhatikan Protein**

Protein memang penting, namun harus seimbang dengan serat. Pilih sumber protein yang rendah lemak jenuh, seperti daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, atau produk nabati seperti tahu dan tempe.

6. **Pertahankan Konsistensi Pola Makan**

Pola makan yang terlalu ketat atau perubahan drastis dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Menjaga jadwal makan tetap teratur membantu sistem pencernaan berfungsi dengan baik.

Kesimpulan

Defisit kalori ternyata bisa menyebabkan kesulitan buang air besar jika tidak diimbangi dengan asupan serat dan cairan yang cukup. Menghindari pola diet yang terlalu ketat, menjaga keseimbangan makronutrien, serta memperhatikan cairan dan serat adalah kunci untuk mencegah sembelit. Dengan pendekatan holistik, defisit kalori dapat dicapai tanpa mengorbankan kesehatan pencernaan, sehingga

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *