Fenomena ‘Gurun Pasir’ di Sungai Barito: Antara Dampak Kemarau Ekstrem dan Kepastian Transportasi

Fenomena 'Gurun Pasir' di Sungai Barito: Antara Dampak Kemarau Ekstrem dan Kepastian Transportasi

Lensa Informasi – 24 Agustus 2026 | Fenomena menyusutnya debit air di sungai barito belakangan ini memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat Kalimantan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan hamparan pasir luas di tengah badan sungai, menciptakan pemandangan yang menyerupai gurun pasir, khususnya di sekitar wilayah Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Kondisi ini sempat menimbulkan spekulasi mengenai ancaman kekeringan total yang dapat melumpuhkan jalur nadi transportasi air di wilayah tersebut. Namun, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, memberikan klarifikasi resmi untuk menenangkan publik. Ia menegaskan bahwa secara keseluruhan, sungai tersebut tidak mengalami kekeringan total dan alur utamanya masih tetap berfungsi.

Baca juga:
Setelah aksi demo hari ini, DPR berencana melaporkan proses RUU Perampasan Aset ke lembaga terkait, menambah tekanan politik pada pembahasan undang‑undang

Klarifikasi Pemerintah Terkait Kondisi Alur Sungai

Menteri PU menjelaskan bahwa meskipun terjadi penurunan muka air, alur utama sungai barito masih memiliki aliran air dengan lebar mencapai sekitar 100 meter. Lebar ini dinilai masih sangat memadai untuk dilalui oleh kapal maupun perahu yang menjadi sarana transportasi utama masyarakat setempat.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, Sandi Eriyanto, menambahkan penjelasan teknis mengenai video yang beredar. Menurutnya, sudut pengambilan gambar dari atas Jembatan Kalahien memberikan kesan visual yang dramatis, seolah-olah seluruh badan sungai telah kering. Padahal, hamparan pasir atau ‘gosong’ yang terlihat hanyalah bagian pinggiran sungai yang tidak teraliri air akibat penurunan debit selama musim kemarau.

Aspek Pengamatan Kondisi Lapangan
Alur Utama Sungai Masih berair dengan lebar ±100 meter
Visual Media Sosial Hamparan pasir luas (memberikan kesan gurun)
Status Transportasi Tetap dapat dilalui kapal dan perahu
Penyebab Utama Penurunan debit akibat musim kemarau

Faktor Cuaca dan Ancaman Karhutla

Berdasarkan data dari BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, fenomena ini berkaitan erat dengan rendahnya intensitas curah hujan di Kalimantan Tengah. Kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga September 2026. Hal ini membuat sungai barito mengalami penyusutan yang signifikan sejak awal Agustus.

Baca juga:
Senin mendatang, sebagian besar wilayah DKI Jakarta diprediksi akan cerah berawan pada siang dan sore hari, menurut prakiraan BMKG

Selain masalah debit air, wilayah Kalimantan juga tengah menghadapi ancaman serius lainnya, yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Di Kalimantan Selatan, tercatat setidaknya 9 wilayah terdampak dengan total 53 titik api yang telah terdeteksi oleh BNPB. Luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 595 hektare, dengan Kabupaten Banjar menjadi wilayah terdampak paling luas yakni sebesar 174 hektare.

Dampak Ekologis dan Solusi Jangka Panjang

Direktur Walhi Kalteng, Janang Firman, memberikan catatan kritis terkait kerusakan ekologis ini. Ia menilai fenomena penyusutan air yang ekstrem ini merupakan dampak nyata dari fenomena iklim global serta masifnya deforestasi di wilayah tersebut. Hal ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai daerah tangkapan air.

Menanggapi situasi ini, Kementerian PU melalui BWS Kalimantan III berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan intensif terhadap muka air dan alur sungai di Wilayah Sungai Barito. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Pemerintah menekankan pentingnya ketersediaan air sebagai fondasi pembangunan, sehingga solusi jangka panjang berupa infrastruktur yang tangguh terhadap kekeringan terus disiapkan.

Baca juga:
Krisis Kekeringan dan Karhutla Mengancam: Mobilisasi Pesawat Udara di Kalimantan dan Distribusi Logistik Udara NTT

Sebagai penutup, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh dokumentasi visual yang hanya diambil dari satu sudut pandang tertentu. Informasi yang akurat dan menyeluruh mengenai kondisi sungai barito akan terus diperbarui oleh pihak berwenang secara berkala guna memastikan keamanan mobilitas warga di sepanjang aliran sungai.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *