Dosen yang dulu mengajar kini menjadi guru Mandarin bagi napi Lapas Perempuan Bandung, menginspirasi rehabilitasi lewat bahasa.
Perjalanan Leny: Dari Universitas Beijing ke Lapas Perempuan Bandung
Leny, seorang dosen asal Indonesia, memulai kariernya di Universitas Beijing setelah menempuh studi di sana selama 28 tahun. Ia mengaku bahwa masa tinggalnya di Tiongkok membentuk pandangannya tentang pentingnya bahasa sebagai jembatan budaya. âSaya WNI, cuma sudah lama tinggal di China, 28 tahun. Sebagai dosen di Universitas Beijing,â kata Leny saat ditemui detikcom di Lapas Perempuan Bandung, Jumat (21/8/2026). Setelah kembali ke tanah air, Leny memilih untuk berkontribusi pada rehabilitasi narapidana perempuan dengan cara yang tidak biasa: mengajar bahasa Mandarin.
Sejak 2025, Leny memulai kelas bahasa Mandarin di Lapas Perempuan Bandung. Pada awalnya, hanya 12 orang yang bergabung. Namun, keunikan metode pengajarannya cepat menarik minat lebih banyak napi. Ia sengaja menerapkan pendekatan yang ringan dan berfokus pada percakapan sehariâhari, menghindari teori tata bahasa yang dianggap menumpuk dan kurang praktis. âSaya buka kelas untuk having fun temanâteman, lebih banyak bermain karena yang saya ajarkan lebih ke conversation. Saya tidak menuntut temanâteman harus bisa huruf hanzi. Saya tulis hanzi dan mereka tulis pinyin,â jelas Leny.
Metode Pengajaran yang Menyemangati
Leny mengajarkan pelafalan, angka, cara memperkenalkan diri, hingga lagu berbahasa Mandarin. Ia menghindari materi yang terlalu rumit karena menilai warga binaan belum memiliki dasar bahasa yang kuat. âKita mulai dengan hal sederhana, seperti menghitung, menyapa, dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, kita melanjutkan ke kalimat yang lebih kompleks,â ujar Leny. Pendekatan ini tidak hanya mempermudah pemahaman, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Metode Leny memanfaatkan permainan peran dan dialog interaktif. Misalnya, napi berlatih memperkenalkan diri kepada satu sama lain menggunakan kalimat âNami sayaâ¦â dan âSaya berasal dariâ¦â. Leny menambahkan elemen musik dengan mengajarkan lagu-lagu populer dalam bahasa Mandarin, sehingga napi dapat mengekspresikan diri melalui lirik yang mudah diingat. Teknik ini meningkatkan motivasi belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Dampak Positif bagi Napi dan Lapas
Hasilnya, tingkat partisipasi meningkat secara signifikan. Dari 12 peserta awal, sekarang kelas telah melibatkan lebih dari 50 napi. Selain itu, Leny melaporkan peningkatan suasana positif di antara para narapidana. âSaya melihat napi yang sebelumnya tampak cemas menjadi lebih tenang ketika berbicara dalam bahasa Mandarin,â kata Leny. Penggunaan bahasa baru juga membantu napi mengembangkan keterampilan komunikasi yang dapat berguna di masa depan.
Rehabilitasi melalui bahasa tidak hanya memberi manfaat individual. Lapas Perempuan Bandung melaporkan penurunan tingkat konflik antar narapidana. âKita melihat bahwa napi yang belajar bahasa Mandarin menjadi lebih kooperatif dan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru,â ujar seorang staf lapas. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bahasa dapat berperan sebagai alat penyembuhan emosional dan sosial.
Lebih lanjut, Leny bekerja sama dengan pihak kepolisian dan lembaga swadaya masyarakat untuk menyelenggarakan workshop tambahan. Ia mengajak narapidana untuk belajar menulis karakter Hanzi sederhana, sehingga mereka dapat mengekspresikan diri melalui tulisan. Selain itu, Leny juga mengorganisir sesi diskusi tentang budaya Tiongkok, memperluas wawasan para napi.
Inspirasi bagi Lembaga Rehabilitasi Lain
Kisah Leny menjadi contoh bagi lembaga rehabilitasi lain di Indonesia. Banyak yang memandang bahasa sebagai alat yang dapat mengubah mindset narapidana. Leny menekankan pentingnya pendekatan yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehariâhari. âKita tidak perlu memaksakan teori, cukup memfokuskan pada percakapan yang bermanfaat,â ujarnya.
Sejumlah perguruan tinggi dan organisasi nirlaba telah merespons inisiatif Leny dengan menawarkan program pelatihan guru bahasa Mandarin. Mereka berharap dapat menyalurkan tenaga pengajar yang berpengalaman dan metode yang terbukti efektif. Dengan dukungan ini, Leny berharap dapat memperluas programnya ke lapas lain di seluruh negeri.
Kesimpulan
Dosen yang dulu mengajar di Universitas Beijing kini menjadi guru Mandarin bagi napi Lapas Perempuan Bandung. Melalui pendekatan yang ringan dan berbasis percakapan, Leny berhasil meningkatkan partisipasi dan menciptakan suasana belajar yang positif. Dampak positifnya terlihat tidak hanya pada individu, tetapi juga pada lingkungan lapas secara keseluruhan. Inisiatif ini menginspirasi lembaga rehabilitasi lain untuk mengadopsi metode pendidikan bahasa sebagai bagian integral dari proses rehabilitasi. Dosen yang bertransformasi menjadi guru bahasa Mandarin membuka jalan bagi narapidana untuk menemukan potensi baru melalui bahasa, sekaligus menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan