Ketua Komisi XII DPR menegaskan dukungan kuatnya terhadap wacana penggabungan Badan Geologi dan BMKG demi sinergi data iklim serta geologi nasional

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG menjadi topik hangat di ruang DPR, menandai potensi perubahan signifikan dalam sistem mitigasi bencana di Indonesia. Perpaduan dua lembaga yang fokus pada data iklim dan geologi nasional dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan sinergi informasi di era perubahan iklim dan geofisika yang semakin kompleks.

Perkenalan Usulan Penggabungan

Usulan penggabungan Badan Geologi dan BMKG pertama kali disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas (ratas) penanganan bencana hybrid di Istana Merdeka pada Senin, 7 September 2026. Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri kabinet, kepala badan/lembaga, serta kepala daerah terdampak bencana. Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa usaha pemerintah untuk memitigasi bencana sudah maksimal, namun masih perlu langkah tambahan untuk mengoptimalkan sumber daya dan data.

Baca juga:
Prakiraan cuaca Lampung 5 September 2026 menunjukkan hujan ringan berpotensi turun di sejumlah wilayah, memengaruhi aktivitas warga dan transportasi
➜

Prabowo Subianto, Menteri Bencana, menambahkan bahwa Indonesia berada di “ring of fire” dan terus memantau potensi erupsi gunung berapi serta bencana alam lainnya. Ia menyebutkan bahwa penggabungan Badan Geologi dan BMKG masih dalam tahap pertimbangan, namun tidak menutup kemungkinan integrasi tersebut menjadi solusi nyata untuk memperkuat sistem peringatan dini.

Reaksi Ketua Komisi XII DPR

Ketua Komisi XII DPR, Mekeng, menegaskan dukungan kuatnya terhadap wacana penggabungan Badan Geologi dan BMKG. Ia menyatakan bahwa usulan Presiden masuk akal karena dapat mengurangi perampingan organisasi yang memiliki tugas dan tujuan serupa, sehingga efisiensi dapat segera diterapkan. Mekeng menegaskan bahwa Komisi XII akan mendukung usulan tersebut jika dibahas secara resmi bersama DPR.

“Ya kalau nanti ada usulan rapat masalah ini kita mendukung usulan Presiden,” ujar Mekeng kepada wartawan pada Selasa, 8 September 2026. Ia menilai penggabungan tersebut sebagai hal yang bagus untuk dilakukan dan akan memantau perkembangan diskusi di DPR.

Konsep Sinergi Data Iklim dan Geologi

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG bertujuan menciptakan sinergi data iklim serta geologi nasional. Dengan mengintegrasikan sistem pemantauan gempa, tsunami, erupsi gunung berapi, dan perubahan iklim, Indonesia dapat memperoleh informasi yang lebih komprehensif dan akurat. Hal ini sangat penting mengingat Indonesia seringkali menjadi korban bencana alam yang bersifat kompleks, seperti gempa bumi yang memicu tsunami, atau erupsi gunung berapi yang memengaruhi pola cuaca regional.

Data yang terintegrasi akan memudahkan pembuatan model prediksi dan perencanaan mitigasi. Misalnya, data geologi tentang potensi longsor dapat dipadukan dengan data cuaca untuk memprediksi risiko bencana di daerah tertentu. Selain itu, pemantauan satelit dan sensor di lapangan dapat dioptimalkan dengan sistem koordinasi yang lebih baik antara Badan Geologi dan BMKG.

Baca juga:
BMKG Ungkap 10 wilayah terpanas di RI pada awal September, lengkap dengan data suhu tertinggi dan faktor penyebabnya
➜

Potensi Efisiensi Organisasi

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG juga dapat menurunkan biaya operasional dengan mengurangi duplikasi fungsi. Kedua lembaga saat ini memiliki struktur organisasi yang serupa dalam hal pengumpulan data, analisis, dan publikasi informasi. Dengan menggabungkan, akan ada pengurangan birokrasi, penghematan anggaran, serta peningkatan produktivitas tenaga ahli.

Efisiensi ini tidak hanya berdampak pada pengeluaran pemerintah, tetapi juga pada kecepatan respons terhadap bencana. Dengan satu entitas yang mengelola data iklim dan geologi, proses pengambilan keputusan dapat lebih cepat dan terkoordinasi. Hal ini sangat penting ketika waktu menjadi faktor kritis dalam menyelamatkan nyawa dan properti.

Dampak pada Sistem Peringatan Dini

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG akan memperkuat sistem peringatan dini nasional. Saat ini, peringatan gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung berapi sering kali dikeluarkan oleh lembaga yang berbeda, yang dapat menyebabkan kebingungan di kalangan masyarakat. Dengan satu entitas, pesan peringatan dapat disampaikan secara konsisten dan terintegrasi.

Selain itu, integrasi data iklim dapat membantu memprediksi dampak jangka panjang, seperti banjir akibat curah hujan tinggi atau perubahan pola curah hujan yang mempengaruhi lahan pertanian. Peringatan dini yang lebih akurat akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengambil langkah preventif, seperti relokasi, penanaman vegetasi, atau penataan drainase.

Reaksi Kepala Badan Geologi dan BMKG

Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, turut hadir. Meskipun belum ada keputusan akhir, mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung proses integrasi jika dianggap menguntungkan bagi efektivitas mitigasi bencana. Mereka menekankan pentingnya melibatkan para ahli dan pihak terkait dalam setiap tahap penggabungan.

Baca juga:
NTT Berduka: Gempa Dahsyat M 7,7 Guncang Wilayah, Pemerintah Kerahkan Bantuan Masif
➜

Prabowo menekankan bahwa keputusan akhir masih dalam tahap pertimbangan, namun ia mengajak semua pihak untuk tetap fokus pada tujuan utama: meningkatkan kemampuan negara dalam mengantisipasi dan menanggapi bencana secara lebih efisien.

Langkah Selanjutnya di DPR

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG masih perlu dibahas secara resmi di DPR. Komisi XII, yang bertanggung jawab atas kebijakan bencana, akan menjadi platform utama untuk memverifikasi rencana integrasi. Mekeng menyatakan bahwa Komisi XII akan menyiapkan pertimbangan hukum, administratif, dan teknis sebelum menyampaikan rekomendasi ke DPR.

Jika disetujui, proses integrasi akan melibatkan revisi anggaran, penyesuaian struktur organisasi, serta penetapan prosedur operasional bersama. Selain itu, akan ada koordinasi dengan lembaga lain, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan lembaga daerah, untuk memastikan kelancaran transisi.

Kesimpulan

Penggabungan Badan Geologi dan BMKG menjadi wacana penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan bencana. Dengan sinergi data

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *