Lensa Informasi – 25 Agustus 2026 | Dunia kemanusiaan tanah air tengah diselimuti duka mendalam atas berpulangnya ahmad zaki ali, seorang relawan sekaligus pendiri Yayasan Gerak Bareng. Sosok yang dikenal dengan panggilan Bang Jek ini mengembuskan napas terakhirnya saat tengah menjalankan misi mulia menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Kepergian almarhum meninggalkan jejak dedikasi yang luar biasa. Diketahui, perjalanan kemanusiaan terakhirnya dilakukan dengan pengorbanan yang tinggi. Di tengah proses transisi kepemimpinan di Yayasan Gerak Bareng, Bang Jek memutuskan untuk berangkat ke lokasi bencana menggunakan biaya pribadi. Hal ini dilakukan karena dana yayasan belum dapat digunakan secara optimal akibat adanya proses reorganisasi manajemen agar lembaga tersebut dapat berjalan lebih profesional dan mandiri di masa depan.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun dari rekan sejawatnya, Muhammad Rafki Razif Kiransyah dari Tim Hands Foundation, almarhum meninggal dunia di wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara. Peristiwa tragis tersebut terjadi saat tim sedang dalam perjalanan untuk melakukan asesmen kebutuhan masyarakat setelah menyelesaikan distribusi paket bantuan. Di dalam mobil, almarhum sempat mengucapkan istigfar sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
Tim segera berupaya memberikan pertolongan pertama dengan membawa almarhum ke posko medis terdekat menggunakan kendaraan warga. Meskipun tim medis telah melakukan upaya maksimal, termasuk melakukan siklus CPR sebanyak tujuh kali untuk memompa jantungnya, nyawa ahmad zaki ali tidak dapat diselamatkan. Almarhum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 16.40 WITA.
Dibalik semangatnya yang membara, ternyata terdapat perjuangan kesehatan yang selama ini disembunyikan dari publik. Keluarga mengungkapkan bahwa beberapa waktu sebelum kejadian, almarhum sempat mengeluhkan kondisi jantungnya yang terasa tidak stabil. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai kondisi kesehatan dan aktivitas terakhir almarhum:
- Keluhan Kesehatan: Pada awal Agustus 2026, almarhum sempat bercerita kepada keluarga bahwa kondisi jantungnya terasa sering mengalami gangguan ritme atau terasa berhenti sekejap.
- Upaya Medis: Saat ditemukan tidak sadarkan diri, tim medis juga menemukan obat pribadi milik almarhum, yang diidentifikasi sebagai obat untuk hipertensi.
- Semangat Kerja: Meski memiliki keluhan kesehatan, rekan-rekan relawan menyebutkan bahwa selama enam hari menjalankan misi, ahmad zaki ali tidak pernah terlihat lelah dan tetap penuh semangat dalam melakukan distribusi bantuan maupun kunjungan warga.
Keberanian dan ketulusan ahmad zaki ali dalam merespons bencana secara spontan menjadi teladan bagi para relawan lainnya. Ia tidak hanya bekerja sebagai relawan, tetapi menjadikan misi kemanusiaan sebagai panggilan hidupnya. Almarhum telah dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, diiringi doa dari keluarga, rekan relawan, dan masyarakat yang pernah dibantunya.
Kisah perjuangan terakhirnya menjadi pengingat penting bagi organisasi kemanusiaan akan perlunya dukungan sumber daya yang memadai serta sistem manajemen yang kuat agar para relawan di lapangan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih aman dan terorganisir. Semangat pengabdian tanpa pamrih yang ditinggalkan oleh almarhum akan selalu dikenang dalam sejarah gerakan sosial di Indonesia.

Tinggalkan Balasan