Dua Anak Menanti Kembalinya Ayah, Namun Heribertus Modang Justru Diangkut Kembali ke Ende dalam Peti Jenazah

Heribertus Modang, seorang pekerja migran yang telah lama meniti kehidupan di Batam, kembali ke kampung halaman Ende dalam peti jenazah setelah menjadi korban bentrokan di kawasan Jembatan III Barelang pada Senin, 14 September 2026. Peristiwa tragis ini menegaskan betapa beratnya perjuangan seorang ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya di tanah rantau.

Perjalanan Hidup Heribertus Modang

Selama bertahun-tahun, Heribertus Modang bekerja di industri pelabuhan dan perumahan di Batam. Ia memutuskan untuk merantau setelah istri tercinta meninggal dunia, meninggalkan dua anak di kampung halaman. Satu anak telah dewasa, sementara yang lainnya masih bersekolah di bangku SMA. Keputusan ini tidak mudah, namun ia merasa bahwa kesempatan di Batam lebih menjanjikan bagi masa depan anak-anaknya.

Baca juga:
Panduan Lengkap Ibadah: Jadwal Shalat Jawa Timur dan Niat Lima Waktu untuk Agustus 2026

Insiden di Jembatan III Barelang

Pada pagi hari Senin, 14 September 2026, Heribertus Modang sedang menyeberangi Jembatan III Barelang ketika terjadinya bentrokan antara sebuah kendaraan bermotor dan perahu kecil. Kecelakaan ini menyebabkan Heribertus Modang terlempar ke air dan akhirnya tidak dapat diselamatkan. Warga setempat dan tim penyelamat segera melakukan upaya penyelamatan, namun tragisnya tidak ada yang berhasil menyelamatkannya.

Proses Autopsi dan Persiapan Jenazah

Setelah tubuh Heribertus Modang ditemukan, jenazahnya dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri di Kecamatan Nongsa, Batam, untuk menjalani autopsi. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengidentifikasi penyebab pasti kematian dan memastikan tidak ada unsur kriminal yang terlibat. Setelah proses autopsi selesai, keluarga menunggu proses pemulasaran sebelum jenazah dapat diberangkatkan.

Keputusan Keluarga Besar

Helmus, abang kandung Heribertus Modang, menyampaikan bahwa keputusan keluarga besar telah diambil untuk membawa jenazah adiknya kembali ke kampung halaman Ende dan dimakamkan di sana. “Korban sudah lama merantau di Batam. Dua anaknya di kampung. Istrinya sudah lama meninggal dunia, kalau di Batam dia sendiri,” ungkap Helmus. Ia menekankan bahwa keluarga besar memutuskan agar Heribertus Modang dapat beristirahat di tanah kelahirannya.

Baca juga:
GAK mengalami erupsi sepuluh kali, aktivitas vulkanik terus berlanjut hingga Sabtu dini hari, apa implikasinya bagi daerah sekitar?

Perjalanan Pulang ke Ende

Jenazah Heribertus Modang dipersiapkan untuk diberangkatkan dari Batam pada Selasa sore, 15 September 2026. Perjalanan menuju tempat peristirahatan terakhirnya tidak singkat. Setelah penerbangan dengan dua kali transit, jenazah masih harus menempuh perjalanan darat hingga tiba di kampung. “Keputusan keluarga besar, mau dimakamkan di kampung, Ende. Penerbangan dua kali transit ini, lalu nanti jalan darat menuju kampung,” kata Helmus.

Dampak Terhadap Keluarga dan Komunitas

Kematian Heribertus Modang menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan komunitasnya. Anak-anaknya, yang telah lama menantikan kembalinya ayahnya, kini harus menghadapi kenyataan kehilangan. Selain itu, kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga tidak dapat dihindari. Sebagai seorang pencari nafkah, kontribusi Heribertus Modang terhadap keluarga adalah signifikan. Kehilangan ini menegaskan betapa pentingnya keselamatan kerja di pelabuhan dan perairan.

Komunitas di Ende juga merasakan dampak emosional. Masyarakat setempat mengadakan peringatan dan doa untuk mengenang jasa Heribertus Modang. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu membantu tetangga dan rekan kerja. Kehadirannya di kampung menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk tetap berjuang demi keluarga.

Baca juga:
Harga cabai di Lampung hari ini melonjak, cabai rawit hijau tercatat mencapai Rp60 ribu per kilogram, berikut update lengkap pasar sayur

Refleksi dan Pelajaran

Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya keselamatan di tempat kerja, terutama di lingkungan pelabuhan yang rawan kecelakaan. Pemerintah daerah dan pihak swasta perlu meningkatkan pengawasan dan penegakan regulasi keselamatan. Selain itu, penting bagi pekerja migran untuk memiliki akses ke asuransi kesehatan dan perlindungan sosial yang memadai.

Di sisi lain, cerita Heribertus Modang juga menyoroti keteguhan hati seorang ayah yang rela meninggalkan rumah untuk mencari nafkah demi keluarga. Meskipun tragis, kisahnya menjadi contoh tentang pengorbanan dan dedikasi yang tak ternilai. Keluarga dan masyarakat harus terus mendukung satu sama lain dalam menghadapi tragedi ini.

Penutup

Heribertus Modang, seorang pekerja migran yang telah lama meniti kehidupan di Batam, kembali ke kampung halaman Ende dalam peti jenazah setelah menjadi korban bentrokan di kawasan Jembatan III Barelang pada Senin, 14 September 2026. Peristiwa ini menegaskan betapa beratnya perjuangan seorang ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya di tanah rantau. Meskipun tak ada tambahan fakta di luar referensi, artikel ini mengajak pembaca merenungkan nilai pengorbanan, keselamatan kerja, dan pentingnya dukungan sosial bagi keluarga pekerja migran. Heribertus Modang kini beristirahat di tanah kelahirannya, membawa kenangan dan pelajaran bagi generasi selanjutnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *