IDAI mengingatkan bahaya abu vulkanik bagi anak, gejala seperti iritasi pernapasan dan kulit harus segera diwaspadai orang tua

Abu vulkanik menjadi perhatian utama bagi keluarga di daerah rawan aktivitas gunung berapi, karena partikel halusnya dapat mengiritasi saluran pernapasan dan kulit, terutama pada anak-anak.

Komposisi dan sifat abu vulkanik

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material yang berasal dari erupsi ini terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus. Partikel tersebut memiliki permukaan yang tajam dan abrasif sehingga ketika terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan. Paparan abu vulkanik juga dapat diperparah oleh kandungan gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Pada anak, kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan gangguan pada sistem pernapasan.

Baca juga:
Gunung Sinabung kembali meletus, memaksa evakuasi total 2.451 warga dari dua desa terdampak demi menghindari bahaya lava dan abu vulkanik
➜

Gejala yang perlu diwaspadai orang tua

Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), gangguan pernapasan menjadi salah satu dampak yang paling perlu diperhatikan. “Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas,” ujar dr Wahyuni dalam rilis IDAI, Senin (7/9/2026). Pada anak yang sebelumnya memiliki masalah pernapasan, paparan abu vulkanik dapat memicu peradangan dan gangguan sistem pernapasan yang lebih serius.

Kelompok rentan di antara anak-anak

Kelompok yang lebih rentan mencakup bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan. Anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis berisiko mengalami perburukan kondisi atau eksaserbasi akibat paparan abu. Karena itu, orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen.

Baca juga:
Gunung Anak Krakatau Erupsi Membuat Penerbangan Terhenti, Sorotan pada Pentingnya Mitigasi Ekonomi di Tengah Krisis
➜

Dampak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang

Selain mengganggu pernapasan, abu yang mengenai tubuh juga dapat menyebabkan iritasi kulit. Pada anak, paparan berlebih dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan. Paparan jangka panjang terhadap partikel halus dan gas iritan dapat menambah beban pada sistem kardiovaskular, meningkatkan risiko penyakit jantung pada anak yang memiliki kondisi bawaan.

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan

Orang tua dapat melindungi anak dengan menutup hidung dan mulut menggunakan masker berbahan kain tebal ketika berada di luar rumah selama erupsi. Menggunakan air bersih untuk membersihkan wajah dan wajah bayi dapat membantu mengurangi partikel yang menempel. Pastikan rumah tertutup rapat, terutama jendela dan pintu, dan gunakan sistem filter udara jika memungkinkan. Selalu pantau kondisi pernapasan anak dan segera konsultasikan ke tenaga medis jika gejala tidak kunjung membaik.

Baca juga:
467 Penerbangan Batal Akibat Abu Vulkanik, Sebanyak 150 Ribu Penumpang Terdampak; Maskapai dan Pemerintah Siapkan Langkah Darurat
➜

Kesimpulan

Abu vulkanik membawa risiko kesehatan yang signifikan bagi anak-anak, terutama yang memiliki riwayat penyakit pernapasan atau jantung. Dengan memahami gejala dan kelompok rentan, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, orang tua dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh partikel halus dan gas iritan selama erupsi gunung berapi.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *