Infografis mengungkap dorongan mengakhiri hidup paling tinggi pada generasi Gen Z dan Milenial di Indonesia menyoroti angka-angka yang mengkhawatirkan. Data layanan konseling Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dikumpulkan melalui platform Healing119.id dari 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026 menunjukkan bahwa kelompok usia muda mencatatkan proporsi keinginan mengakhiri hidup (suicide ideation) yang paling signifikan.
Data Konseling Layanan Healing119.id
Selama satu tahun penuh, layanan Healing119.id menerima 15.979 permintaan akses. Dari jumlah tersebut, 7.600 orang melakukan sesi konseling yang terstruktur, sementara 3.036 orang tercatat memiliki keinginan mengakhiri hidup. Sementara itu, 759 orang menghubungi layanan untuk meminta informasi tambahan, dan 203 orang teridentifikasi sebagai spam. Sebanyak 4.381 orang tidak memberikan respons atau tidak melanjutkan proses konseling, menandakan adanya tantangan dalam menjaga keterlibatan pengguna.
Angka 3.036 orang yang mengalami keinginan mengakhiri hidup merupakan data yang paling penting. Data ini dipecah menurut kelompok usia, mengungkap pola distribusi yang cukup tajam.
Distribusi Usia Terhadap Keinginan Mengakhiri Hidup
Kelompok usia 21-30 tahun menempati puncak dengan proporsi 54,08 persen dari total 3.036 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah individu yang mengakses layanan memiliki keinginan tersebut berada di rentang usia ini. Kelompok usia 11-20 tahun menyusul dengan 33,04 persen, mencerminkan bahwa remaja juga menghadapi tekanan mental yang serius.
Kelompok usia 31-40 tahun memberikan kontribusi 11,01 persen, sedangkan usia 41-50 tahun hanya 1,62 persen. Usia di atas 50 tahun mencatat 0,19 persen, dan usia 8-10 tahun hanya 0,06 persen. Angka-angka ini menegaskan bahwa risiko keinginan mengakhiri hidup lebih tinggi di kalangan muda dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih tua.
Penyebab Potensial dan Dampak Sosial
Walaupun data tidak menyebutkan faktor spesifik, pola distribusi usia ini menimbulkan pertanyaan tentang kondisi sosial dan psikologis yang mempengaruhi Gen Z dan Milenial. Tekanan akademik, ketidakpastian karir, serta eksposur media sosial yang intens dapat menjadi kontributor utama. Selain itu, pandemi COVID-19 yang masih memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi dapat memperparah kondisi mental, khususnya bagi generasi yang masih dalam fase pembangunan identitas diri.
Dampak dari keinginan mengakhiri hidup pada kelompok usia ini tidak hanya bersifat individu. Ketika tingkat ideasi dan perilaku suicidal meningkat, beban pada sistem kesehatan mental, keluarga, dan masyarakat juga bertambah. Kesehatan mental yang tidak terkelola dapat mengarah pada penurunan produktivitas, peningkatan absensi kerja, dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan. Dalam konteks ekonomi, generasi muda yang mengalami masalah kesehatan mental dapat memerlukan intervensi lebih awal, menambah biaya kesehatan dan menurunkan potensi kontribusi ekonomi jangka panjang.
Peran Layanan Konseling dan Kebijakan Publik
Data ini menyoroti pentingnya peran layanan konseling seperti Healing119.id dalam menyediakan akses cepat dan aman bagi individu yang membutuhkan. Namun, angka 4.381 orang yang tidak melanjutkan proses konseling menunjukkan bahwa masih ada hambatan dalam mempertahankan keterlibatan. Faktor-faktor seperti stigma, kurangnya kesadaran tentang layanan, atau kendala teknis dapat menjadi penyebabnya.
Di sisi kebijakan publik, data ini dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk merumuskan program intervensi yang lebih terfokus pada usia muda. Program pencegahan, pelatihan coping skills di sekolah dan universitas, serta kampanye kesadaran kesehatan mental dapat membantu mengurangi angka ideasi suicidal. Selain itu, perluasan jaringan konselor dan integrasi layanan kesehatan mental dalam sistem pelayanan kesehatan umum dapat meningkatkan aksesibilitas.
Kesimpulan
Infografis ini menegaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup paling tinggi di kalangan Gen Z dan Milenial di Indonesia, dengan kelompok usia 21-30 tahun mencatat proporsi terbesar. Data ini menuntut perhatian serius dari sektor kesehatan, pendidikan, dan kebijakan publik untuk mengembangkan intervensi yang tepat sasaran. Menangani masalah kesehatan mental pada generasi muda tidak hanya penting bagi kesejahteraan individu, tetapi juga bagi masa depan sosial dan ekonomi bangsa.

Tinggalkan Balasan