Meskipun pasar global bergejolak, Suahasil menegaskan bahwa klaim ekonomi RI tetap menunjukkan ketahanan yang kuat

Suahasil menegaskan bahwa klaim ekonomi RI tetap menunjukkan ketahanan yang kuat meski pasar global bergejolak. Pada konferensi pers APBNKita di Jakarta, Jumat (18/9/2026), ia menyoroti dinamika suku bunga global dan bagaimana Indonesia tetap resilient di tengah ketidakpastian dunia.

Reaksi Suahasil terhadap Kebijakan The Fed

Suahasil menjelaskan bahwa langkah The Fed merupakan bentuk antisipasi terhadap kondisi perekonomian di Amerika Serikat sendiri. Ia menekankan bahwa secara keseluruhan pasar memperkirakan suku bunga global akan berada di level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, atau higher for longer. Dalam konteks ini, kebijakan The Fed tidak hanya mempengaruhi pasar keuangan AS, tetapi juga menimbulkan efek domino pada sistem keuangan global.

Baca juga:
DPR resmi mengesahkan Sarjito sebagai Kepala Pengawas Bursa Mineral OJK, menandai langkah penting regulasi sektor pertambangan nasional

Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengah ketidakpastian global dan proyeksi pertumbuhan dunia yang mengalami moderasi, Suahasil menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Ia mengutip data semester‑I, di mana Indonesia tumbuh sebesar 5,45% dan inflasi 3,19%. Angka-angka ini memberikan confidence kepada pemerintah bahwa perekonomian Indonesia tetap stay resilien.

Ketahanan tersebut tidak hanya terlihat dari angka saja, tetapi juga berdampak langsung pada pergerakan ekonomi di tengah masyarakat. Aktivitas transaksi, gerak investasi, hingga konsumsi masyarakat terjaga dengan baik di tengah bervariasinya pertumbuhan ekonomi negara‑mitra utama Indonesia, seperti India, Vietnam, Singapura, Malaysia, hingga China. Menurut Suahasil, “Indonesia itu tetap resilient perekonomiannya, gerak ekonominya, gerak di masyarakat, transaksi yang ada di masyarakat. Itu gerak ekonomi itu transaksi, juga gerak investasi, gerak konsumsi.”

Pengaruh Suku Bunga Global terhadap Pasar Modal Indonesia

Penguatan suku bunga global membawa tekanan pada pasar modal, namun Indonesia mampu menanggulanginya berkat struktur ekonomi yang beragam. Suku bunga tinggi di AS meningkatkan biaya pinjaman di negara berkembang, namun Indonesia telah memperkuat cadangan devisa dan menurunkan neraca perdagangan deficit. Hal ini memberi ruang bagi investor asing untuk tetap menaruh kepercayaan pada pasar modal Indonesia.

Selain itu, kebijakan fiskal yang proaktif, termasuk pengelolaan anggaran dan pendapatan pajak, membantu menjaga stabilitas ekonomi. Suahasil menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang disiplin dalam menjaga daya tarik investasi. Dengan demikian, meski suku bunga global tinggi, Indonesia tetap mampu menarik aliran modal asing melalui instrumen keuangan yang kompetitif.

Baca juga:
Rekomendasi Saham Pilihan untuk Investor Saat IHSG Melemah, Simak Sektor dan Emiten dengan Potensi Kenaikan

Peran Sektor Swasta dan Konsumen dalam Menjaga Stabilitas

Ketahanan ekonomi Indonesia juga didukung oleh dinamika sektor swasta. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah beradaptasi dengan kondisi pasar global, memanfaatkan peluang ekspor dan diversifikasi produk. Sektor manufaktur, khususnya, menunjukkan pertumbuhan yang stabil, berkat investasi infrastruktur dan teknologi yang terus berlanjut.

Di sisi konsumen, tingkat pengeluaran tetap tinggi berkat kebijakan stimulus fiskal dan penurunan inflasi. Konsumen Indonesia cenderung menjaga pola pengeluaran, terutama pada barang kebutuhan pokok dan jasa. Hal ini memperkuat pasar domestik, menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dampak pada Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan Prospek Indonesia

Proyeksi pertumbuhan dunia yang moderat menambah ketidakpastian bagi negara-negara berkembang. Namun, Indonesia dapat memanfaatkan posisi geografis dan jaringan perdagangan yang kuat. Hubungan dengan negara-negara mitra utama, seperti India, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan China, memberikan peluang bagi ekspor dan investasi bilateral.

Ketahanan ekonomi Indonesia juga terlihat dari kebijakan moneter yang fleksibel. Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, sehingga menurunkan risiko volatilitas pasar. Dengan kebijakan ini, Indonesia dapat memanfaatkan peluang investasi global meski suku bunga tinggi.

Baca juga:
Fenomena ‘kos‑kosan barang’ di Jakarta menampilkan gudang pribadi yang melayani kebutuhan penyimpanan warga urban secara inovatif

Strategi Pemerintah untuk Menjaga Ketahanan Ekonomi

Pemerintah Indonesia telah merancang kebijakan fiskal yang berfokus pada efisiensi pengeluaran dan peningkatan penerimaan. Ini termasuk reformasi pajak, pengurangan subsidi tidak produktif, dan peningkatan pendapatan dari sektor non-pajak. Selain itu, pemerintah memperkuat kebijakan fiskal melalui pengelolaan utang yang sehat, menjaga rasio utang terhadap PDB dalam batas yang wajar.

Di bidang investasi, pemerintah mendorong aliran modal asing melalui regulasi yang transparan dan kebijakan investasi yang menarik. Program-program seperti “Made in Indonesia” dan “Indonesia Investment Coordinating Board” memfasilitasi investasi di sektor strategis, termasuk energi terbarukan, digital, dan infrastruktur.

Kesimpulan

Suahasil menegaskan bahwa klaim ekonomi RI tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah pasar global bergejolak. Dengan pertumbuhan semester‑I sebesar 5,45% dan inflasi 3,19%, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang disiplin, Indonesia berada di posisi yang baik untuk menghadapi tantangan ekonomi global. Ketahanan ekonomi ini tidak hanya terlihat dari angka, melainkan juga dari aktivitas transaksi, gerak investasi, dan konsumsi masyarakat yang tetap terjaga. Melalui kebijakan yang proaktif dan hubungan perdagangan yang kuat, Indonesia dapat terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan resilient di masa depan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *