Peneliti Australia melaporkan penurunan populasi dugong hingga 50 persen, menyoroti ancaman kritis bagi mamalia laut ini

Penurunan populasi dugong menjadi sorotan utama dalam laporan terbaru dari peneliti Australia, menandai ancaman serius bagi mamalia laut ini di wilayah Teluk Carpentaria.

Peneliti Australia Mengungkap Penurunan 50 Persen pada Dugong

Para peneliti Australia, melalui kolaborasi dengan ilmuwan dari Charles Darwin University dan kelompok penjaga lingkungan masyarakat adat, melakukan survei udara di Teluk Carpentaria pada tahun 2025. Hasilnya menunjukkan penurunan populasi dugong sebesar 50 persen dibandingkan estimasi tahun 2007, di mana populasi di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1.000 individu. Peneliti utama, Chris Cleguer dari James Cook University, menekankan bahwa temuan ini mengkhawatirkan karena Teluk Carpentaria merupakan salah satu habitat terpenting bagi dugong secara global.

Metode survei udara melibatkan pencarian visual dari pesawat terbang, memanfaatkan teknologi penginderaan jarak jauh untuk mendeteksi keberadaan dugong di perairan dangkal. Kombinasi data ini, yang diolah bersama dengan pengamatan di lapangan dan analisis satelit, memungkinkan peneliti untuk memperkirakan jumlah populasi secara akurat. Penelitian ini dipublikasikan oleh Australian Broadcasting Corporation, menyoroti pentingnya pendekatan multidisipliner dalam konservasi mamalia laut.

Peran Nekropsi di Bali dalam Konservasi Dugong

Di sisi lain, tim Resor Jembrana bekerja sama dengan tim dokter hewan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia melakukan nekropsi terhadap seekor dugong di Pantai Desa Perancak, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, pada 19 Juli 2025. Nekropsi ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab kematian dan mempelajari kondisi kesehatan dugong lokal. Hasil nekropsi dapat memberikan informasi penting mengenai penyakit, polusi, dan faktor lingkungan lain yang memengaruhi populasi dugong di wilayah tropis Indonesia.

Penelitian di Bali juga menunjukkan bahwa dugong di wilayah tersebut menghadapi tantangan serupa, meskipun skala populasi lebih kecil dibandingkan Teluk Carpentaria. Pencemaran air, perburuan ilegal, dan konflik dengan aktivitas manusia seperti perikanan dan pariwisata menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi populasi dugong di Indonesia.

Faktor Penyebab Penurunan Populasi Dugong

Penurunan populasi dugong dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang saling terkait. Pertama, degradasi habitat akibat polusi laut, termasuk limbah plastik dan bahan kimia industri, dapat mengurangi ketersediaan rumput laut yang merupakan sumber makanan utama dugong. Kedua, perburuan ilegal dan perdagangan tidak sah menambah tekanan pada populasi, terutama di wilayah di mana penegakan hukum masih lemah. Ketiga, konflik dengan aktivitas manusia seperti perikanan, pembangunan pesisir, dan pariwisata menyebabkan dugong kehilangan ruang hidup dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain itu, perubahan iklim global dapat memengaruhi suhu air laut dan pola curah hujan, yang pada gilirannya memengaruhi distribusi dan kualitas rumput laut. Dampak kombinasi faktor-faktor ini memperparah situasi, menyebabkan penurunan populasi dugong yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Dampak Ekosistem dan Manusia

Penurunan populasi dugong memiliki implikasi luas bagi ekosistem laut. Dugong berperan sebagai pemangsa rumput laut yang membantu menjaga keseimbangan vegetasi di perairan dangkal. Kehilangan mereka dapat menyebabkan pertumbuhan rumput laut yang tidak terkendali, mengurangi habitat bagi spesies lain, dan mengganggu struktur ekosistem. Selain itu, dugong juga menarik perhatian wisatawan, sehingga menurunnya populasi dapat berdampak negatif pada industri pariwisata pesisir yang bergantung pada keberadaan mamalia laut ini.

Dalam konteks ekonomi, penurunan populasi dugong dapat menurunkan pendapatan masyarakat pesisir yang mengandalkan pariwisata laut. Hal ini dapat memperburuk ketimpangan ekonomi dan meningkatkan ketergantungan pada sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, perlindungan dugong tidak hanya penting untuk konservasi, tetapi juga untuk keberlanjutan ekonomi lokal.

Upaya Konservasi dan Rekomendasi

Upaya konservasi harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal. Penerapan zona larangan perburuan, pengawasan polusi, dan edukasi publik dapat membantu menstabilkan populasi dugong. Penelitian lanjutan, termasuk pemantauan berkelanjutan dan pengumpulan data melalui survei udara serta nekropsi, akan memberikan dasar ilmiah untuk kebijakan konservasi yang lebih efektif.

Penggunaan teknologi baru, seperti penginderaan satelit dan sensor akustik, dapat memperluas pemantauan populasi dan memantau kesehatan ekosistem laut. Selain itu, program rehabilitasi dan penanaman rumput laut di wilayah yang terdegradasi dapat membantu memulihkan habitat dugong.

Kesimpulan

Penurunan populasi dugong sebesar 50 persen di Teluk Carpentaria menandai krisis konservasi bagi mamalia laut ini. Kombinasi faktor degradasi habitat, perburuan ilegal, dan perubahan iklim menambah tekanan pada populasi dugong di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan upaya kolaboratif yang melibatkan penelitian, kebijakan, dan partisipasi masyarakat. Melindungi dugong tidak hanya penting bagi keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial komunitas pesisir yang bergantung pada keanekaragaman hayati ini.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *