Prabowo dorong percepatan hilirisasi serta penataan BUMN, menargetkan peningkatan nilai tambah dan daya saing nasional

Percepatan hilirisasi menjadi sorotan utama dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dan jajaran Danantara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada hari Jumat, 4 September 2026. Pertemuan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat nilai tambah sumber daya alam dan meningkatkan daya saing nasional melalui penataan BUMN serta konsolidasi sektor publik.

Percepatan Hilirisasi: Langkah Strategis Meningkatkan Nilai Tambah

Menurut Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, percepatan hilirisasi merupakan agenda utama yang dibahas. “Percepatan hilirisasi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, memperkuat investasi, serta menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” ujarnya. Dalam konteks ini, hilirisasi tidak sekadar memproses bahan mentah menjadi produk akhir, melainkan juga mencakup pengembangan teknologi, peningkatan kualitas produk, dan penambahan nilai ekonomi di dalam negeri. Dengan demikian, hilirisasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, meningkatkan pendapatan negara, dan menciptakan lapangan kerja baru.

Baca juga:
Alasan Prabowo Tolak Utang IMF Dijabarkan, Mengungkap Kekhawatiran Ekonomi Nasional dan Strategi Alternatif Pembiayaan
➜

Rosan Roeslani, sebagai CEO Danantara, menekankan pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta. Ia menambahkan bahwa Danantara akan memfasilitasi investasi dalam proyek hilirisasi, baik melalui kemitraan publik-swasta maupun pendanaan infrastruktur. Keterlibatan Danantara diharapkan dapat mempercepat implementasi program hilirisasi, sekaligus menarik investor asing dan domestik untuk berpartisipasi dalam rantai nilai tambah.

Penataan dan Perampingan BUMN: Menyusun Kebijakan untuk Efisiensi Anggaran

Selain hilirisasi, Presiden menerima laporan perkembangan pelaksanaan instruksinya terkait penataan dan perampingan BUMN. Hingga saat ini, sebanyak 290 BUMN telah ditutup, menghasilkan penghematan anggaran negara hingga Rp50 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya publik dan mengurangi beban fiskal. Menurut data, penutupan BUMN yang tidak efisien atau tidak strategis membantu memperjelas fokus investasi pada sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Proses konsolidasi ini akan terus dilanjutkan dengan target penutupan sedikitnya 700 BUMN lainnya hingga akhir Desember 2026. Penutupan BUMN ini tidak hanya mengurangi pengeluaran negara, tetapi juga mendorong efisiensi operasional di sektor publik. Dengan mengurangi jumlah BUMN yang beroperasi secara tidak produktif, pemerintah dapat menyalurkan dana lebih efektif ke proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan industri strategis.

Baca juga:
50 ribu motor buruh menggelar aksi serbu ke Jakarta pada 24 September 2026, menuntut hak dan kebijakan kerja yang lebih adil bagi pekerja
➜

Investasi dan Penataan BUMN: Mendorong Daya Saing Nasional

Penataan BUMN dan percepatan hilirisasi saling terkait dalam menciptakan ekosistem investasi yang lebih kompetitif. Penutupan BUMN yang tidak menguntungkan membuka ruang bagi perusahaan swasta untuk memasuki pasar, meningkatkan persaingan, dan mendorong inovasi. Hal ini juga dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, karena nilai tambah yang lebih tinggi dan kualitas produk yang lebih baik.

Dalam konteks investasi, pertemuan ini menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif. Dengan menata ulang struktur BUMN, pemerintah berupaya mengurangi birokrasi dan meningkatkan transparansi. Hal ini diharapkan dapat menarik lebih banyak investor asing, yang pada gilirannya dapat memperluas jaringan pasokan dan distribusi produk hilir Indonesia.

Dampak Sosial dan Ekonomi: Manfaat bagi Perekonomian Indonesia

Penghematan anggaran negara sebesar Rp50 triliun dari penutupan BUMN memberikan ruang bagi pemerintah untuk menyalurkan dana ke sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Selain itu, nilai tambah yang dihasilkan dari hilirisasi dapat meningkatkan pendapatan daerah dan menciptakan lapangan kerja baru. Peningkatan nilai tambah juga berpotensi menurunkan inflasi, karena biaya produksi dapat ditekan.

Baca juga:
BPK Telusuri Laporan Keuangan Danantara, Temukan Temuan Utama yang Perlu Diperhatikan Pemerintah
➜

Penataan BUMN juga dapat memperkuat sistem keuangan negara. Dengan mengurangi beban anggaran dan meminimalkan risiko kebocoran dana, pemerintah dapat lebih fokus pada pengelolaan fiskal yang sehat. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global dan perubahan dinamika pasar.

Kesimpulan: Menuju Pembangunan Berkelanjutan dan Peningkatan Daya Saing

Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan pejabat tinggi terkait hilirisasi dan penataan BUMN menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat nilai tambah sumber daya alam, meningkatkan daya saing nasional, serta mengoptimalkan pengelolaan anggaran negara. Melalui percepatan hilirisasi, penutupan BUMN yang tidak produktif, dan penataan ulang struktur BUMN, diharapkan Indonesia dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih efisien, inovatif, dan berkelanjutan. Dengan langkah-langkah strategis ini, Indonesia siap menghadapi tantangan global dan memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri secara maksimal, demi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *