Gempa NTT yang melanda akhir bulan Agustus meninggalkan jejak kehancuran yang mendalam di kampung Nara, Dusun Wancang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Rumah keluarga Seriani Wati Mengo, yang dibangun dengan keringat perantauan selama satu dekade, kini rata dengan tanah, memaksa mereka menempati bekas kandang babi sebagai tempat tinggal sementara.
Kehancuran Rumah dan Pemindahan Tempat Tinggal
Setelah gempa NTT, bangunan rumah Seriani terhancur parah. Ia bersama suami, Siprianus Baeng, dan tiga anaknya terpaksa mencari tempat perlindungan. Di tengah kepanikan, mereka memutuskan untuk kembali ke pekarangan rumah, di mana terletak sebuah kandang babi yang sudah diperbaiki seadanya. “Kami sempat di posko, tapi di sana juga belum layak. Takut hujan, banyak debu. Akhirnya kami pilih perbaiki kandang babi dan tinggal di sini,” ungkapnya.
Posko pengungsian yang tersedia belum memenuhi standar keamanan dan kenyamanan. Kondisi berdebu dan rawan hujan membuat keluarga Seriani memutuskan untuk kembali ke tempat yang lebih familiar, meski tidak ideal. Kini, mereka harus beradaptasi hidup di dalam kandang babi yang semula berfungsi sebagai tempat memelihara hewan ternak.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Keluarga
Seriani dan suaminya adalah petani dan penenun, sehingga kerusakan rumah langsung mempengaruhi mata pencaharian mereka. Tanpa tempat tinggal yang layak, aktivitas produksi menjadi terhenti. Kebutuhan pokok seperti makanan dan pendidikan anak-anak mereka menjadi beban tambahan. Stok beras bantuan pemerintah yang sebelumnya cukup, kini tersisa hanya tiga kilogram, menambah tekanan ekonomi keluarga.
Situasi ini menyoroti betapa rentan keluarga di daerah rawan gempa. Rumah yang dibangun selama sepuluh tahun, didukung oleh kerja keras dan perantauan, kini hancur karena gempa NTT. Ketergantungan pada bantuan pemerintah menjadi sangat penting, namun masih belum cukup untuk menutupi kebutuhan dasar.
Reaksi Komunitas dan Upaya Penanganan
Di kampung Nara, warga lainnya juga merasakan dampak gempa NTT. Banyak rumah yang mengalami kerusakan serupa, sehingga posko pengungsian menjadi titik kumpul sementara. Namun, kondisi posko yang masih rawan hujan dan berdebu membuat sebagian warga memilih untuk kembali ke rumah mereka, meski belum sepenuhnya aman. Kegiatan perbaikan rumah dan pengadaan tempat tinggal sementara menjadi prioritas bagi warga setempat.
Upaya bantuan dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan masih berjalan. Namun, dalam konteks gempa NTT, kebutuhan mendesak seperti tempat tinggal yang layak, sanitasi, dan kebutuhan pokok harus segera terpenuhi. Keluarga Seriani, bersama warga lainnya, menunggu respons lebih cepat dan solusi jangka panjang untuk mengatasi dampak gempa NTT.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Gempa NTT menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan infrastruktur yang kuat di daerah rawan gempa. Keluarga Seriani Wati Mengo, yang terpaksa tinggal di kandang babi, menjadi contoh nyata betapa rapuhnya kehidupan ketika bencana melanda. Meskipun menghadapi tantangan besar, mereka tetap berusaha bertahan dan menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
Harapan bagi keluarga dan komunitas di Manggarai adalah adanya upaya lebih intensif dari pihak terkait untuk memperbaiki rumah, menyediakan tempat tinggal yang layak, serta memastikan kebutuhan pokok terpenuhi. Dengan dukungan yang tepat, keluarga seperti Seriani dapat kembali membangun kehidupan mereka dan memulai fase pemulihan setelah gempa NTT.

Tinggalkan Balasan