Shin Tae‑yong terkejut fakta Persija tak dapat melawan Persib di Jakarta selama tujuh tahun, ia menjelaskan implikasinya bagi persaingan

Shin Tae‑yong, pelatih Persija Jakarta, mengungkapkan keheranannya saat menyadari bahwa klubnya tidak pernah menjamu Persib Bandung di Jakarta selama tujuh tahun terakhir.

Kronologi Ketidaksetaraan di Stadion

Sejak tahun 2019, Persija Jakarta seringkali menghadapi kendala ketika harus bermain di ibu kota melawan Persib Bandung. Kendala tersebut meliputi masalah stadion dan izin kepolisian. Persija berencana untuk berkandang di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Jakarta Pusat, namun belum menerima rekomendasi keamanan. Akibatnya, Persija harus berpindah ke Samarinda, Kalimantan Timur, pada musim lalu karena tidak dapat memperoleh izin kepolisian. Hasil pertandingan di Samarinda berakhir dengan kekalahan 1-2 bagi Persija.

Baca juga:
Nova Arianto Hitung Hitungan, Timnas Indonesia U‑20 Siap All‑Out Lawan Laos atau Australia di Kualifikasi Piala Asia U‑20 2027

Shin Tae‑yong mengamati situasi ini selama sesi latihan di Persija Training Ground, Depok, pada Selasa (8/9/2026). Ia menunjukkan gerak tubuh terkejut ketika diberi tahu bahwa timnya tidak pernah menjamu Persib di Jakarta selama tujuh tahun terakhir. “Kami harus meraih kemenangan ini. Kami harus mengambilnya,” ujar Shin Tae‑yong, menekankan pentingnya hasil yang diharapkan oleh klub.

Ketidaksetaraan ini tidak hanya berdampak pada Persija, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang keadilan bagi Persib. “Tapi tunggu, itu artinya selama tujuh tahun kita terus bertanding away dan tidak pernah sekalipun main di kandang? Kalau begitu ceritanya, seharusnya Persib juga bermain di tempat lain,” tambah Shin Tae‑yong. Ia menegaskan bahwa pola pikirnya dalam olahraga selalu mengedepankan fair play, sehingga tidak boleh ada keuntungan sepihak bagi salah satu tim.

Implikasi bagi Persaingan Liga

Shin Tae‑yong menilai bahwa persaingan antara Persija dan Persib seharusnya berlangsung dalam kondisi yang setara. Ia menyoroti pentingnya kedua tim untuk bertanding secara adil dan dalam kondisi yang sama persis. “Kedua tim harus selalu bertanding secara adil dan dalam kondisi yang sama persis. Itulah semangat olahraga yang sesungguhnya,” ujar pelatih. Ketidaksetaraan ini dapat mempengaruhi persepsi publik tentang keadilan kompetisi, serta menimbulkan ketidakpuasan di kalangan penggemar.

Baca juga:
Persib Bandung memulai BRI Super League 2026/2027 dengan kemenangan meyakinkan; Igor Toli menegaskan tantangan tidak mudah bagi tim

Dampak lainnya adalah pada strategi taktis. Tanpa kesempatan bermain di kandang, Persija harus menyesuaikan strategi untuk menghadapi Persib di luar negeri. Hal ini dapat mempengaruhi performa pemain, terutama yang terbiasa bermain di lingkungan tertentu. Sementara itu, Persib mungkin mendapatkan keuntungan tidak terduga jika mereka harus bermain di tempat lain, yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di liga.

Peran Persija dalam Menuntut Keadilan

Shin Tae‑yong menekankan bahwa klub Persija berusaha aktif menuntut keadilan. Ia menegaskan bahwa klub tidak ingin menjadi korban ketidaksetaraan yang tidak adil. “Kami harus meraih kemenangan ini. Kami harus mengambilnya,” ucapnya, menandakan tekad klub untuk tidak mengalahkan permasalahan ini. Persija telah menyiapkan rencana untuk bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, namun belum mendapatkan rekomendasi keamanan. Hal ini menunjukkan bahwa klub berusaha memperjuangkan haknya untuk bermain di kandang sendiri.

Selain itu, Shin Tae‑yong menegaskan bahwa keputusan untuk bermain di luar negeri tidak boleh menjadi keputusan tunggal. Ia menekankan bahwa kedua tim harus memiliki kesempatan yang sama untuk bermain di kandang dan tandang. Hal ini sejalan dengan prinsip fair play yang dipegang teguh oleh pelatih tersebut.

Baca juga:
Resmi! Persib meminjamkan Saddil Ramdani ke Persebaya dengan pertimbangan kebutuhan tim serta situasi pemain yang sedang berkembang

Kesimpulan

Shin Tae‑yong menegaskan bahwa persaingan antara Persija dan Persib harus didasarkan pada prinsip keadilan. Ketidaksetaraan dalam penggunaan stadion selama tujuh tahun terakhir menimbulkan pertanyaan tentang integritas kompetisi. Pelatih Persija menekankan pentingnya kondisi yang setara bagi kedua tim, termasuk status kandang dan tandang. Dengan menegaskan prinsip fair play, Shin Tae‑yong berharap persaingan di liga akan menjadi lebih adil dan transparan bagi semua pihak.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *