Suster Sebastiana Bwarleling, seorang biarawati Kongregasi DSY Manado, memulai perjalanan akademisnya sebagai mahasiswa baru di Program Studi D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta pada 10 September 2026. Keputusan ini menandai langkah berani bagi seorang wanita yang telah menapaki jalur keagamaan selama lebih dari satu dekade, sekaligus menegaskan komitmennya terhadap pengembangan ilmu kesehatan.
Perjalanan Sebastiana dari Kepulauan Tanimbar ke Yogyakarta
Berawal dari Kepulauan Tanimbar, Maluku, Sebastiana telah menjadi biarawati sejak 2015. Sebagai anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado, ia aktif dalam pelayanan sosial dan keagamaan di wilayahnya. Pada awal tahun 2026, ia memutuskan untuk mengangkat pendidikan ke level yang lebih tinggi dengan menempuh studi di bidang radiologi. Langkah ini tidak dirancang secara kebetulan; Sebastiana melakukan survei mendalam terhadap berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sebelum akhirnya memilih Unisa.
Unisa, yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, menjadi pilihan utama karena reputasinya dalam bidang pendidikan kesehatan. Menurut Sebastiana, kebijakan Muhammadiyah yang menekankan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan menjadi faktor penentu. Ia merasa bahwa lingkungan akademis yang bersahabat dan fasilitas medis yang memadai akan mendukung tujuannya untuk menjadi profesional di bidang radiologi.
Menjadi Mahasiswa Baru di Kampus Islam
Setelah tiba di Yogyakarta, Sebastiana menghadapi tantangan pertama: menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus Islam yang memiliki budaya dan nilai-nilai berbeda dari latar belakang biarawati yang ia jalani. Meski tidak canggung, ia merasakan tekanan sosial karena perbedaan usia dan latar belakang. Sebagai mahasiswa baru yang berusia lebih tua dibandingkan rekan-rekannya, ia sering kali menjadi sorotan, baik dalam interaksi sosial maupun dalam dinamika akademik.
Berbagai pengalaman ini menjadi titik refleksi bagi Sebastiana. Ia belajar bahwa usia bukanlah penghalang bagi pencapaian akademis, tetapi sekaligus menambah kedalaman perspektif yang ia bawa ke dalam kelas. Di sisi lain, rekan mahasiswa muda terkadang memandangnya sebagai “suster” yang masih berada di luar lingkup pendidikan formal, sehingga menciptakan kesenjangan komunikasi yang harus diatasi.
Dampak Sosial dan Akademik bagi Sebastiana
Dari segi sosial, Sebastiana menemukan bahwa keterbatasan usia dapat mempengaruhi cara ia diperlakukan dalam kelompok belajar. Ia sering kali harus menjelaskan kembali konsep dasar kepada teman-teman sekelas yang lebih muda, yang pada awalnya menimbulkan rasa kikuk. Namun, dengan kesabaran dan keterbukaan, ia berhasil membangun hubungan yang saling menghormati. Keberadaannya juga membuka ruang diskusi tentang peran perempuan dan keagamaan dalam ilmu kesehatan, menambah nilai tambah bagi komunitas akademik.
Dari sisi akademik, kehadiran Sebastiana menambah keragaman perspektif dalam diskusi kelas. Ia membawa pengalaman praktis dalam pelayanan kesehatan dari komunitas DSY, yang seringkali tidak terwakili dalam literatur akademik. Hal ini memperkaya proses pembelajaran, memberikan contoh nyata tentang bagaimana ilmu radiologi dapat diaplikasikan di lapangan, terutama di daerah terpencil.
Pengaruh Terhadap Komunitas DSY dan Muhammadiyah
Keputusan Sebastiana untuk melanjutkan pendidikan di Unisa juga berdampak positif pada komunitas DSY dan Muhammadiyah. Sebagai biarawati yang menempuh studi di bidang radiologi, ia menjadi contoh nyata bahwa integrasi antara keagamaan dan ilmu pengetahuan adalah hal yang mungkin dan bermanfaat. Ia dapat menjadi jembatan antara dunia keagamaan dan kesehatan, memfasilitasi program-program kesehatan berbasis nilai keagamaan yang lebih terintegrasi.
Selain itu, kehadiran Sebastiana di kampus Islam menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia yang holistik. Ia berpotensi menjadi mentor bagi mahasiswa lain yang berasal dari latar belakang keagamaan, membantu mereka mengatasi rintangan sosial dan akademik yang sama.
Kesimpulan
Suster Sebastiana Bwarleling menunjukkan bahwa tekad dan komitmen dapat menembus batasan usia dan latar belakang. Perjalanannya dari biarawati di Kepulauan Tanimbar hingga menjadi mahasiswa D3 Radiologi di Unisa Yogyakarta menjadi contoh inspiratif bagi banyak orang, khususnya perempuan dan komunitas keagamaan, bahwa pendidikan dan pelayanan kesehatan dapat berjalan seiring. Meskipun menghadapi tantangan sosial karena usia, ia berhasil menyesuaikan diri dan menjadi aset berharga bagi lingkungan akademis dan komunitasnya. Dengan tekad dan kerja keras, Sebastiana membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mengejar ilmu tanpa batasan usia atau latar belakang.

Tinggalkan Balasan