Tega! Seorang Ayah Tinggalkan Anak 7 Tahun Sendirian di Mount Fuji Demi Mencapai Puncak

Tega! Seorang Ayah Tinggalkan Anak 7 Tahun Sendirian di Mount Fuji Demi Mencapai Puncak

Lensa Informasi – 24 Agustus 2026 | Sebuah insiden memprihatinkan terjadi di kawasan pendakian mount fuji, Jepang, di mana seorang ayah dilaporkan meninggalkan anak laki-lakinya yang baru berusia tujuh tahun sendirian di tengah jalur pendakian. Peristiwa ini mengejutkan publik setelah pihak kepolisian melakukan tindakan tegas terhadap pria tersebut karena dianggap membahayakan nyawa anak di bawah umur dalam kondisi cuaca yang ekstrem.

Kejadian bermula ketika seorang pria berusia 48 tahun asal Nagoya, Jepang, melakukan pendakian bersama dua putranya. Dalam perjalanan menuju puncak, putra sulungnya yang berusia 12 tahun tampak masih mampu melanjutkan perjalanan, namun putra bungsunya yang berusia tujuh tahun mengaku kelelahan dan tidak sanggup lagi melanjutkan pendakian. Alih-alih mencari bantuan atau turun kembali, sang ayah justru mengambil keputusan fatal dengan meninggalkan anak tersebut di sekitar Stasiun ke-6 pada ketinggian sekitar 2.000 meter.

Baca juga:
Tragedi di Balik Prestasi: Menguak Kontroversi dan Kematian Professor Jason Arday

Anak malang tersebut dibiarkan duduk sendirian di sebuah bangku kayu dengan kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat. Berdasarkan laporan di lapangan, saat itu kawasan mount fuji sedang dilanda kabut tebal dan hujan, yang meningkatkan risiko hipotermia bagi siapa pun yang berada di luar ruangan tanpa perlindungan memadai. Sang ayah hanya membekali anaknya dengan satu minuman dingin dan beberapa camilan ringan, tanpa memberikan uang maupun alat komunikasi apa pun untuk meminta bantuan.

Setelah meninggalkan anak bungsunya, sang ayah melanjutkan pendakian menuju puncak bersama putra sulungnya selama kurang lebih lima jam. Keberadaan anak yang tertinggal tersebut akhirnya diketahui oleh petugas di sebuah pusat peristirahatan di jalur pendakian. Petugas yang melihat seorang anak kecil sendirian tanpa pendamping segera melaporkan situasi darurat ini kepada pihak kepolisian setempat.

Baca juga:
Fenomena Mariano Díaz: Dari Kejutan di Lapangan Hijau hingga Dinamika Politik dan Hukum Global

Pihak kepolisian segera bergerak cepat melacak keberadaan sang ayah. Saat ditemukan, pria tersebut sudah mencapai Stasiun ke-8, yang berarti ia berada sekitar tiga jam perjalanan pendakian dari lokasi anaknya ditinggalkan. Polisi segera memberikan instruksi tegas agar sang ayah menghentikan pendakiannya dan segera turun untuk menemui anaknya. Diketahui bahwa anak tersebut telah bertahan sendirian di tengah cuaca buruk selama kurang lebih delapan jam.

Beruntung, meskipun sempat mengalami situasi yang sangat menegangkan, anak tersebut ditemukan dalam kondisi selamat tanpa luka fisik yang serius. Setelah dipastikan aman, anak itu kemudian dikembalikan ke pelukan keluarganya. Namun, tindakan sang ayah tetap mendapatkan teguran keras dari pihak berwenang. Mengingat mount fuji adalah gunung berapi aktif dengan medan yang berbahaya dan cuaca yang sulit diprediksi, meninggalkan anak di bawah umur tanpa pengawasan dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab.

Baca juga:
B50 RI tarik perhatian Jepang, Malaysia, dan Eropa; studi kelayakan tunjukkan potensi penghematan hingga Rp 170 triliun

Menghadapi interogasi polisi, pria asal Nagoya tersebut menyampaikan permohonan maaf yang mendalam. Ia mengaku bahwa tindakannya tersebut merupakan keputusan yang diambil secara terburu-buru dan penuh kekhilafan. Ia menyatakan penyesalan yang luar biasa atas kelalaiannya yang hampir merenggut nyawa putranya di kawasan mount fuji.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki mengenai pentingnya persiapan fisik, mental, dan keselamatan keluarga saat melakukan aktivitas ekstrem. Pendakian gunung bukan sekadar mencapai puncak, melainkan tentang memastikan setiap anggota kelompok dapat kembali ke rumah dengan selamat. Pihak berwenang mengimbau agar para pendaki selalu memperhatikan kondisi anak-anak dan tidak mengabaikan faktor keselamatan demi ambisi pribadi di jalur pendakian yang berbahaya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *