Terus terpapar berita buruk? Simak strategi psikolog mengatasi kecemasan agar tetap tenang dalam arus informasi negatif

Terus terpapar berita buruk menjadi tantangan bagi banyak orang di era digital ini, terutama ketika informasi negatif mengalir dengan cepat di berbagai platform. Menurut psikolog Meity Arianty, kuncinya bukan menolak informasi, melainkan menyesuaikan cara kita mengonsumsinya agar tetap tenang.

Strategi Mengelola Paparan Berita Buruk

Meity Arianty menekankan pentingnya memilih sumber yang kredibel. Dengan memfilter berita dari outlet terpercaya, kita dapat meminimalkan risiko terjebak dalam berita palsu atau sensational. Selanjutnya, ia menyarankan menetapkan waktu khusus untuk membaca berita, seperti di pagi hari sebelum memulai aktivitas. “Aku mau lakukan di pagi hari, karena pagi hari di mana aku melakukan aktivitas. Ya, jangan malam hari juga, karena aku mau tidur, istirahat, mungkin siang atau menjelang sore,” ujarnya. Menetapkan waktu ini membantu menjaga ritme harian dan mengurangi dampak negatif yang biasanya muncul jika membaca berita di malam hari.

Baca juga:
Kenali Gejala Stres Berlebih dan Cara Cepat Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental
➜

Selain itu, mematikan notifikasi yang tidak penting menjadi langkah penting. “Hindari yang berulang. Lihat gambar atau video yang berulang. Gambar itu bukan yang membahayakan saja, tapi yang enggak enak,” kata psikolog tersebut. Dengan mematikan notifikasi, kita mengurangi interupsi yang dapat memicu kecemasan. Ini juga membantu memfokuskan perhatian pada konten yang benar-benar relevan dan bermanfaat.

Meity juga menekankan pentingnya memeriksa perasaan saat melihat berita. “Apakah rasanya nyaman?” tanyanya. Jika berita membuat kita merasa tidak nyaman atau terancam, sebaiknya kita mengambil jeda. Paparan berita yang terus-menerus dapat meningkatkan rasa terancam dan kecemasan, serta menurunkan kemampuan seseorang untuk menghadapi stres.

Kenapa Paparan Berita Buruk Menyebabkan Kecemasan?

Berita buruk seringkali berisi informasi yang mengancam, seperti bencana, konflik, atau statistik negatif. Ketika otak terus-menerus menerima stimulus seperti ini, sistem saraf simpatik dapat menjadi overaktif. Akibatnya, kita mengalami peningkatan denyut jantung, pernapasan cepat, dan ketegangan otot. Semua tanda ini merupakan bagian dari respons “fight or flight” yang sebenarnya membantu kita bertahan hidup, namun dalam konteks berita modern dapat menjadi beban psikologis.

Selain itu, paparan terus-menerus terhadap berita negatif dapat menciptakan persepsi bahwa dunia lebih berbahaya daripada kenyataannya. Ini sering disebut sebagai bias negativity, di mana otak lebih memproses informasi negatif dibandingkan positif. Akibatnya, orang merasa lebih takut dan cemas, meskipun statistik global menunjukkan tren positif dalam beberapa bidang.

Dampak Jangka Panjang Terhadap Kesehatan Mental

Jika tidak diatur, paparan berulang akan memicu stres kronis. Stres kronis dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko penyakit jantung, dan menurunkan kualitas tidur. Selain itu, stres kronis dapat mempengaruhi fungsi kognitif, seperti konsentrasi dan memori, sehingga mempersulit seseorang untuk berfokus pada tugas sehari-hari.

Di sisi lain, ketika kita mengelola paparan berita dengan bijaksana, kita dapat menjaga kesehatan mental. Dengan menetapkan batas waktu, memfilter sumber, dan mematikan notifikasi, kita memberi ruang bagi otak untuk beristirahat. Ini memungkinkan kita tetap tenang, sehingga dapat menghadapi situasi sulit dengan lebih baik.

Baca juga:
El Nino diprediksi makin kuat, diperkirakan bertahan hingga Februari 2027, ancaman iklim ekstrem mengintai
➜

Bagaimana Menjadi Peduli Tanpa Terlalu Terpapar

Meity Arianty menekankan bahwa “peduli bukan berarti terus-menerus terpapar penderitaan.” Ia menyarankan untuk menanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan? Kalau saya bisa membantu, ya bantu. Kalau tidak, izinkan diri kita untuk istirahat.” Dengan cara ini, seseorang dapat menyeimbangkan antara empati dan perawatan diri.

Menjaga diri tetap tenang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan pribadi, tetapi juga memungkinkan kita lebih efektif dalam membantu orang lain. Seperti yang dikatakan, “Kita tidak harus ikut hancur untuk membuktikan bahwa kita peduli. Justru dengan menjaga diri, tetap tenang, kita bisa hadir sepenuhnya untuk membantu orang lain.”

Praktik Harian untuk Mengurangi Kecemasan Berita

Berikut beberapa praktik harian yang dapat diadopsi:

Pilih satu atau dua sumber berita kredibel dan gunakan aplikasi berita yang memungkinkan filter.

Setel alarm atau jadwal khusus untuk membaca berita, misalnya setiap pagi sebelum memulai pekerjaan.

Matikan semua notifikasi berita kecuali yang berasal dari sumber terverifikasi.

Baca juga:
Penurunan drastis kelahiran bayi di Singapura memicu peringatan Elon Musk tentang risiko kepunahan populasi, menambah kekhawatiran demografis
➜

Jika menemukan gambar atau video yang berulang atau menakutkan, hindari menontonnya secara berulang.

Setelah membaca, lakukan latihan pernapasan atau meditasi singkat untuk menenangkan pikiran.

Evaluasi perasaan setelah membaca berita; jika merasa cemas, ambil jeda dan lakukan aktivitas positif.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, kita dapat tetap memperoleh informasi penting tanpa terjebak dalam lingkaran kecemasan.

Kesimpulan

Terus terpapar berita buruk memang menjadi realitas di dunia digital saat ini. Namun, dengan strategi yang tepat, kita dapat mengelola paparan tersebut dan menjaga kesehatan mental. Menentukan waktu baca, memfilter sumber, mematikan notifikasi, dan memeriksa perasaan saat membaca adalah kunci untuk tetap tenang. Dengan cara ini, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga meningkatkan kemampuan kita untuk membantu orang lain secara efektif. Keseimbangan antara informasi dan perawatan diri adalah kunci untuk menghadapi dunia yang terus berubah ini dengan kepala dingin dan hati yang kuat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *