Trump kembali mengusulkan perubahan nama negara bagian, mengajukan ide mengganti New Mexico menjadi ‘New America’ dan menimbulkan perdebatan politik.
Usulan Trump dan Latar Belakang Eksekutif Terbaru
Usulan ini, seperti dilansir AFP pada Senin (7/9/2026), dicetuskan beberapa hari setelah Trump menandatangani perintah eksekutif terbarunya untuk mengganti nama Danau Ontario, yang terletak di perbatasan AS dan Kanada, menjadi “Danau Amerika” di tengah perang dagang kedua negara. Setelah menandatangani perintah tersebut, Trump mengekspresikan keinginannya melalui media sosial pada Minggu (6/9) waktu setempat. Ia menulis, “Banyak orang menyarankan untuk mengubah nama New Mexico… menjadi NEW AMERICA,” lalu menambahkan, “Jauh lebih bergengsi dan indah bagi penduduk negara bagian yang berpotensi luar biasa itu. Wow, saya menyukainya!!!”
Segera setelah postingan Trump, Gedung Putih mengunggah ulang sebuah gambar yang menunjukkan bagian nama “Mexico” pada negara bagian tersebut dicoret dan diganti dengan “America”. Sejumlah media AS melaporkan bahwa gagasan tersebut bermula sebagai hoaks di internet.
Respon Gubernur New Mexico
Grisham, yang menjabat Gubernur New Mexico sejak tahun 2019, mengatakan kepada media Fox News bahwa nama negara bagian itu “tidak untuk diperdebatkan”. Ia menegaskan, “Nama itu sudah menjadi milik kita sebelum Amerika Serikat terbentuk.” Grisham menyebut Trump hanya ingin “mengalihkan perhatian rakyat Amerika” dari berbagai masalah, seperti lonjakan harga bahan bakar. Gubernur menegaskan bahwa perubahan nama tidak akan dipertimbangkan oleh pemerintah negara bagian.
Hubungan dengan Usulan Nama Selat Hormuz
Pekan lalu, Trump sesumbar mengusulkan agar nama Selat Hormuz diubah menjadi “Selat Trump” di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik di wilayah tersebut. Usulan tersebut menambah spekulasi tentang motif politik di balik perubahan nama yang diusulkan. Namun, tidak ada tindakan resmi yang diambil terkait nama Selat Hormuz.
Implikasi Politik dan Sosial
Usulan Trump untuk mengganti nama New Mexico menjadi “New America” menimbulkan perdebatan tentang identitas sejarah dan kebanggaan wilayah. Mengubah nama negara bagian dapat memicu reaksi emosional karena nama tersebut telah menjadi bagian integral dari sejarah koloni dan budaya lokal. Selain itu, perubahan nama dapat memengaruhi materi promosi, peraturan hukum, dan dokumen administratif, menimbulkan biaya tambahan bagi pemerintah dan warga.
Dalam konteks politik, usulan ini juga dapat dilihat sebagai upaya memperkuat citra nasionalis. Dengan mengganti nama “Mexico” menjadi “America”, Trump mungkin mencoba menekankan ideologi patriotik yang menyoroti kepemilikan tanah dan identitas. Namun, kritik menunjukkan bahwa langkah tersebut dapat memperdalam ketegangan antara komunitas Hispanik dan kelompok yang lebih konservatif.
Di sisi lain, perubahan nama dapat memicu diskusi tentang hak atas nama dan warisan budaya. Banyak penduduk di New Mexico yang memiliki akar budaya Spanyol dan Meksiko yang kuat. Menghapus unsur “Mexico” dalam nama negara bagian bisa dianggap sebagai tindakan yang menyinggung identitas mereka. Hal ini menambah kompleksitas dalam percakapan tentang bagaimana sejarah dan kebijakan nama di negara bagian dapat mencerminkan keragaman budaya.
Kesimpulan
Usulan Trump untuk mengganti nama New Mexico menjadi “New America” menegaskan kembali pola kebijakan nama yang kontroversial. Meskipun didukung oleh beberapa pendukung, gubernur negara bagian menolak secara tegas, menegaskan pentingnya identitas sejarah. Perdebatan ini menyoroti ketegangan antara agenda politik nasionalis dan kebutuhan untuk menghormati warisan budaya lokal. Bagaimanapun, perubahan nama masih belum ada langkah resmi lebih lanjut, dan situasi ini tetap menjadi topik yang menarik bagi pengamat politik dan masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan