UMITRA Selenggarakan Ruang Tenang untuk Mahasiswa, Fokus Diskusi pada Burnout yang Sering Dirasakan di Kalangan Pelajar

Burnout di kalangan mahasiswa menjadi topik hangat di kampus Universitas Mitra Indonesia (UMITRA) pada Rabu, 2 September 2026. Melalui acara “Ruang Tenang” yang diselenggarakan di Gedung A Lantai 2, para mahasiswa dan dosen dapat mendengarkan diskusi mendalam tentang gejala dan solusi burnout yang sering dialami di bangku kuliah. Podcast Kampus UMITRA bertajuk “Burnout di Bangku Kuliah: Capek Fisik atau Capek Pikiran?” menampilkan dua narasumber utama, yaitu hipnoterapis Dina Septiani, S.Sos., C.Ht., Cp.CNLP, serta hipnoterapis Ernidayanti, S.Tr.Keb., M.K.M., CCHt. Acara ini menjadi ajang edukasi bagi mahasiswa yang sering menekan diri untuk mencapai prestasi akademik tinggi.

Ruang Tenang: Tempat Diskusi Terbuka tentang Burnout

Ruang Tenang, sebuah ruang relaksasi yang telah menjadi bagian integral dari UMITRA, memfasilitasi sesi ini dengan suasana yang tenang dan nyaman. Pada pukul 19.00, mahasiswa berkumpul di ruang tersebut untuk menyimak narasi tentang burnout. Dina Septiani membuka sesi dengan menjelaskan bahwa burnout bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan kondisi mental yang dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupan mahasiswa.

Menurut Dina, burnout dapat dikenali dari sejumlah perubahan yang terjadi dalam keseharian. Ia menegaskan bahwa gejala burnout tidak hanya berupa rasa lelah, tetapi juga hilangnya motivasi dan ketertarikan terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai. “Ada beberapa tanda yang bisa diperhatikan. Pertama, kelelahan yang terus-menerus. Bukan hanya setelah aktivitas berat, tetapi seperti tidak memiliki energi bahkan untuk melakukan hal-hal sederhana,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, perubahan emosi, serta gangguan pola tidur dan makan.

Ernidayanti, yang juga hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya tidak memaksakan diri. “Mahasiswa perlu memahami bahwa produktivitas bukan berarti harus terus aktif tanpa jeda. Sibuk tidak selalu berarti produktif,” jelasnya. Ia menekankan bahwa pemahaman akan batasan diri sangat penting untuk mencegah kondisi burnout yang lebih parah.

Gejala Burnout yang Sering Terjadi di Kalangan Pelajar

Dina menyebutkan bahwa gejala burnout dapat muncul secara bertahap. Salah satu tanda utama adalah kelelahan yang terus-menerus. Mahasiswa yang mengalami burnout sering merasa tidak memiliki energi, bahkan untuk melakukan aktivitas sederhana seperti menyiapkan sarapan atau pergi ke kelas. Selain itu, gejala lain yang sering diobservasi meliputi:

Kesulitan berkonsentrasi: Mahasiswa kesulitan fokus pada materi kuliah atau menyelesaikan tugas.

Perubahan emosi: Perasaan mudah frustasi, cemas, atau bahkan depresi.

Gangguan pola tidur dan makan: Mahasiswa yang biasanya memiliki pola tidur teratur mulai sulit tidur atau sering terbangun di malam hari, sementara pola makan menjadi tidak teratur.

Rasa hambar terhadap aktivitas: Hal-hal yang sebelumnya dinikmati, seperti hobi atau kegiatan sosial, menjadi terasa hambar dan tidak menarik.

Perubahan tersebut, menurut Dina, perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. “Kelelahan mental tidak selalu tampak dari luar, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang belajar, berinteraksi, dan menjalani rutinitas,” ujarnya. Ia menekankan bahwa mahasiswa harus lebih peka terhadap sinyal tubuh dan pikiran mereka.

Alasan Mengapa Mahasiswa Rentan terhadap Burnout

Faktor utama yang membuat mahasiswa rentan terhadap burnout adalah tekanan akademik dan ekspektasi sosial. Di UMITRA, mahasiswa diharapkan dapat mengatasi beban tugas, ujian, dan proyek akhir sekaligus menjaga hubungan sosial. Tekanan ini dapat memicu stres kronis, yang bila tidak dikelola dengan baik, dapat berujung pada burnout.

Selain itu, pandemi global telah mengubah cara belajar di kampus. Banyak mahasiswa yang harus menyesuaikan diri dengan pembelajaran daring, yang seringkali menimbulkan kebingungan dan kelelahan mental. Ketidakpastian tentang masa depan karir dan ketidaksesuaian antara harapan pribadi dengan realitas pendidikan juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi.

Dampak Burnout terhadap Kinerja Akademik dan Kehidupan Sosial

Burnout dapat menurunkan kualitas belajar. Mahasiswa yang mengalami kelelahan mental cenderung memiliki konsentrasi rendah, sehingga sulit memahami materi kuliah dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Hal ini dapat memengaruhi nilai akademik dan peluang untuk melanjutkan studi atau mendapatkan beasiswa.

Dampak lainnya adalah pada hubungan sosial. Ketika mahasiswa merasa tidak memiliki energi, mereka cenderung menarik diri dari interaksi sosial, baik dengan teman sekelas maupun keluarga. Hal ini dapat memperburuk perasaan isolasi dan menambah beban emosional.

Selain itu, burnout dapat memicu masalah kesehatan fisik. Gangguan tidur dan pola makan yang tidak teratur dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kondisi kesehatan lainnya. Kondisi ini dapat memperlambat proses pemulihan dan memperpanjang masa pemulihan dari burnout.

Strategi Mengatasi dan Mencegah Burnout di Kalangan Mahasiswa

Dina dan Ernidayanti menyarankan beberapa strategi praktis untuk mengatasi dan mencegah burnout. Pertama, mahasiswa harus belajar mengatur waktu dengan bijak. Mengalokasikan waktu istirahat yang cukup dan menyeimbangkan aktivitas akademik dengan kegiatan rekreasi dapat membantu menjaga energi mental.

Kedua, penting untuk mengenali batasan diri. Mahasiswa harus realistis dalam mengevaluasi beban tugas dan tidak memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya sekaligus. Mengajukan permintaan bantuan atau penyesuaian jadwal kepada dosen dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi stres.

Ketiga, praktikkan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, atau yoga. Teknik-teknik ini dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi ketegangan otot yang seringkali muncul pada mahasiswa yang stres.

Keempat, jaga pola tidur dan makan. Menetapkan rutinitas tidur yang konsisten dan mengonsumsi makanan bergizi dapat meningkatkan energi dan konsentrasi.</p

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *