Indonesia di Ambang Ekstremitas Cuaca: Dari Ancaman Kekeringan El Nino hingga Siaga Hujan Lebat

Indonesia di Ambang Ekstremitas Cuaca: Dari Ancaman Kekeringan El Nino hingga Siaga Hujan Lebat

Lensa Informasi – 22 Agustus 2026 | Kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia pada akhir Agustus 2026 menunjukkan dinamika yang sangat kontras, mulai dari ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino hingga potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat. Laporan terbaru dari bmkg memberikan gambaran mengenai sebaran cuaca yang bervariasi di seluruh nusantara, yang menuntut kesiapsiagaan masyarakat terhadap perubahan atmosfer yang signifikan.

Di wilayah Kalimantan, dampak musim kemarau mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Barito Selatan, debit air Sungai Barito di Desa Kalahien dilaporkan mulai menyusut drastis. Hal ini dipicu oleh minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir, di mana wilayah tersebut telah mengalami periode Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan kategori panjang hingga sangat panjang, yakni berkisar antara 21 hingga 60 hari.

Baca juga:
Ketua Komisi XII DPR menegaskan dukungan kuatnya terhadap wacana penggabungan Badan Geologi dan BMKG demi sinergi data iklim serta geologi nasional
➜

Prakirawan BMKG menyatakan bahwa puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diprediksi akan terjadi pada rentang Agustus hingga September 2026. Kondisi ini menyebabkan sifat hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah didominasi oleh kategori di bawah normal, yang berpotensi memperparah penyusutan debit sungai jika tidak segera diantisipasi.

Operasi Modifikasi Cuaca di Ibu Kota Nusantara

Menanggapi ancaman kekeringan dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat El Nino, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bekerja sama dengan bmkg dan TNI AU akan meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini dijadwalkan berlangsung mulai 22 hingga 27 Agustus 2026 di kawasan IKN dan Kalimantan Timur.

Baca juga:
Minggu ini, prakiraan cuaca menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia akan didominasi awan tebal, menurunkan suhu dan meningkatkan risiko hujan lebat di beberapa daerah
➜

Langkah darurat ini diambil karena meskipun pasokan air di IKN saat ini masih memadai, indikasi penurunan permukaan air mulai terlihat di infrastruktur vital seperti Bendungan Sepaku Semoi dan Intake Sepaku. Dalam operasi ini, TNI AU akan mengerahkan pesawat Casa NC-212 untuk menyemai garam NaCl ke awan potensial (cumulus) guna memicu hujan buatan. Berikut adalah rincian kesiapan armada:

  • Jenis Pesawat: Casa NC-212 (PT Dirgantara Indonesia).
  • Kapasitas Semai: Hingga 800 kilogram garam NaCl per penerbangan.
  • Durasi Operasi: 22 – 27 Agustus 2026.
  • Target: Menjaga ketersediaan air permukaan dan meminimalisir risiko karhutla.

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem di Wilayah Lain

Sementara Kalimantan berjuang melawan kekeringan, wilayah lain di Indonesia justru menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang berbeda. Di Sumatera Utara, bmkg mengeluarkan peringatan dini siaga terhadap ancaman hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Fenomena ini dipicu oleh adanya daerah tekanan rendah di Samudra Pasifik utara Papua yang menginduksi konvergensi atmosfer di wilayah tersebut.

Baca juga:
Prakiraan Cuaca Lampung Selasa 22 September 2026 Menunjukkan Hujan Lebat di Hampir Seluruh Wilayah, Persiapkan Diri Anda
➜

Di Sulawesi Selatan, masyarakat diimbau untuk waspada terhadap dua fenomena sekaligus: udara yang terasa panas menyengat dan potensi angin kencang di beberapa daerah. Selain itu, prakiraan cuaca untuk Sabtu, 22 Agustus 2026, menunjukkan variasi kondisi di kota-kota besar lainnya:

Kondisi Cuaca Wilayah Terkait
Hujan Ringan Medan, Padang, Tanjung Selor, Mamuju, Jayapura
Cerah hingga Berawan Jakarta, Bandung, Semarang, Samarinda, Makassar, Denpasar
Asap atau Kabut Bengkulu, Pontianak, Mataram, Jayawijaya
Udara Kabur Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Palangka Raya, Banjarmasin

Secara keseluruhan, kondisi iklim saat ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan cuaca yang ekstrem di berbagai zona waktu. Masyarakat diharapkan untuk selalu memantau informasi resmi dari bmkg guna mengantisipasi dampak buruk dari kekeringan panjang di wilayah timur maupun potensi banjir dan angin kencang di wilayah barat dan tengah Indonesia.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *