Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35: Antara Tradisi Perjalanan Spiritual, Persiapan Logistik, dan Dinamika Politik Kepemimpinan

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35: Antara Tradisi Perjalanan Spiritual, Persiapan Logistik, dan Dinamika Politik Kepemimpinan

Lensa Informasi – 23 Agustus 2026 | Persiapan menyambut perhelatan akbar muktamar nahdlatul ulama ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kini memasuki fase krusial. Agenda yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 ini tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga menjadi panggung bagi berbagai ekspresi kecintaan warga Nahdliyin terhadap organisasinya.

Salah satu fenomena menarik muncul dari Kalimantan Timur. Wildan Abadi, seorang pengemudi taksi daring sekaligus pengurus Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Balikpapan, memilih cara yang sangat tidak biasa untuk hadir. Ia memutuskan mengayuh sepeda ontel dari Balikpapan menuju Jombang sebagai bentuk ikhtiar mengenang sejarah perjuangan para pendiri NU. Perjalanan panjang ini rencananya akan mencakup ziarah ke makam tokoh-tokoh besar seperti KH Hasan Gipo dan KH Hasyim Asy’ari, serta mengunjungi kantor pertama PBNU di Surabaya.

Baca juga:
Muktamar ke-35 NU: Intrik Politik, Perang Dingin Gus Ipul, dan Pilihan Nasaruddin Umar

Di sisi lain, panitia lokal di Jombang terus mematangkan kesiapan teknis untuk menyambut ribuan muktamirin. Dalam simulasi mobilitas yang dilakukan di kompleks Bahrul Ulum, panitia telah menyiapkan armada transportasi ramah lingkungan. Berikut adalah skema transportasi yang disiapkan oleh Panitia Lokal (Panlok):

  • Becak Listrik: Sebanyak 150 unit becak listrik disiapkan untuk mobilitas peserta di dalam kawasan pesantren.
  • Golf Car: Kendaraan pendukung untuk menjemput tamu dari titik registrasi menuju penginapan.
  • Alur Penjemputan: Dirancang agar pergerakan peserta dari lokasi kedatangan menuju venue kegiatan tetap teratur dan nyaman.

Namun, di balik kesiapan logistik tersebut, gelombang dinamika politik mulai terasa hangat di kalangan ulama. Menjelang pelaksanaan muktamar nahdlatul ulama, Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) memberikan peringatan keras terkait proses pemilihan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Kiai Mujib Qulyubi menekankan pentingnya menjaga marwah syuriyah dengan menolak segala bentuk praktik politik uang atau risywah. Ia menyoroti adanya indikasi penyimpangan prosedural yang dapat mencederai otoritas moral organisasi.

Baca juga:
Mengenal lebih dalam profil Gus Kikin, ketua umum PBNU terbaru yang juga merupakan cicit langsung pendiri Nahdlatul Ulama

Isu kepemimpinan juga menjadi sorotan utama. Nama KH Dr. Marsudi Syuhud kini masuk dalam radar kuat sebagai calon Ketua Umum PBNU mendatang. Dukungan terhadap beliau terus mengalir dari berbagai kalangan, termasuk dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasani Jatimulyo, Gus Fachrudin Ahmad Nawawi. Beliau dinilai sebagai figur lengkap yang memiliki rekam jejak kuat, mulai dari pernah menjabat sebagai Sekjen PBNU hingga peran aktifnya di tingkat internasional melalui diplomasi antaragama.

Kiai Syamsuddin Tubingan dari PWNU Sumatera Selatan juga menambahkan bahwa dinamika ini adalah hal wajar dalam tradisi lima tahunan. Ia berharap sosok pemimpin terpilih nantinya mampu membawa NU tidak hanya kuat di level nasional, tetapi juga memiliki pengaruh signifikan dalam kancah global, sejalan dengan tantangan geopolitik dunia saat ini. Dengan segala persiapan dan dinamika yang ada, muktamar nahdlatul ulama diharapkan mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis demi kemaslahatan umat dan kemajuan organisasi di masa depan.

Baca juga:
Cak Imin menyampaikan selamat berjuang kepada Gus Kikin atas penunjukan sebagai Ketua Umum PBNU, menekankan harapan akan kepemimpinan yang bersinergi dengan nilai‑nilai keagamaan

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *